VOUCHER DONASI PEMBANGUNAN AL-HAYAH




PROPOSAL PEMBANGUNAN AL-HAYAH



MAJALAH AL-HAYAH

SHOLAT IED ADHA 1438 H



Tertib Pelaksanaan:
1. Sunnah mandi dan bersih badan, pakaian dan dalam kondisi terbaik dan bersih.
2. Berangkat ke tempat sholat (lapangan. Masjid atau yang di sediakan). Tenang, banyak bertakbir berdzikir, sunnahnya menempuh jalan berangkat beda dengan jalan pulang.
3. Sholat di segerakan bila sudah masuk waktu. Dilakukan dengan 2 rakaat, berjamaah dan boleh sendiri. Rakaat pertama dengan 7 takbir selain takbir ihrom dan takbir ruku' selanjutnya seperti sholat biasa. Pada rakaat ke 2 ada 5 takbir selain takbir berdiri/qiyam dan takbir ruku', selanjutnya seperti biasa sampai salam.
4. Mendengarkan khotbah Ied, sunnahnya hingha akhir khotbah. Dilakukan seorang khatib. Dengan khotbah 2 kali di pisah dengan duduk antara khotbah yang pertama dan ke dua dan berakhir khotbah kedua selesai rangkaian shalat Ied, dan ada yang melakukannya dengan satu kali khotah saja.
5. Pulang ke rumah dengan menempuh jalan berbeda bila mungkin, dengan ceria gembira menyampaikan selamat dan penghormatan kepada sahabat.
6. Langsung motong hewan Qurban, dan bila mungkin makanan yang di makan pertama adalah daging Qurban.

KESATUAN DAN PERSATUAN
A. Khotbah pertama;
1. Takbir 9 kali.
2. Tahmid, tasyakkur, solawat dan wasiat taqwa dengan bahasa arab.
3. Isi khotbah;

A. Deskripsi keagungan Allah nampak dalam kehidupan nyata, di lisan dan bahasa/takbir, di perbuatan/syariat yang cerminkan pada rukun islam ke 5, dan dalam kesatuan alam yang merupakan ciptaan dan makhluk Allah.

B. ISI KHOTBAH
- Mengandung kesatuan;
- Tahuhid para tokoh dari generasi ke generasi.
- Tokoh sejarah dan pelaku perubahan dengan seruan yang sama, melibatkan unsur tempat, waktu dan kegiatan/amal.
- Keagungan syariat yang saling berhubungan dan yang melengkapi..
- Titik memakmurkan alam/bumi dengan tidak melawan dan bertentangan dengan pemiliknya.
- Pelajaran yang dapat di ambil.

Khotbah ke dua.
- Takbir 7 kali.
- Tahmid.. dan do'a
Dr. KH. Ali Akhmadi, MA alhafizh

DZULHIJJAH BULAN MULIA

Ahad, 05 Dzulhijjah 1438 H - 27 Agustus 2017 M




Ya Allah, di bulan yang mulia, di waktu yang mulia dengan amalan yang mulia oleh para hamba-hamba-Mu yang Engkau muliakan dan disebagian tempat-tempat yang mulia.

Ya Allah, bimbinglah kami menjadi hamba-Mu yang bertakwa, taat beramal, bersilaturrahim, berinfak, berqurban dan bermuamalah dengan baik

Ya Allah, berikan kepada kami kekuatan, kesehatan jasmani dan rohani, mudahkan segala urusan kami, berikan kesembuhan kepada yang sakit dari keluarga dan saudara kami

Ya Allah, jadikan haji para hujjaj menjadi haji yang mabrur

Ya Allah, mudahkan rizki, bukakan pintu berkah dan banyakkan rizki kami dan juga saudara kami semua

Ya Allah, anak-anak dan cucu kami menjadi sholeh dan sholehah, aman dan selamat

Ya Allah, khususon kepada saudara-saudara kami yang sakit, yang terjepit kondisi dan kebutuhan

Ya Allah ya Rahim ya Dzaljalali wal ikram, perkenankan doa kami untuk mereka semua, terima doa kami untuk mereka wahai dzat pengabul doa. ya Allah ya Allah ya Allah. aamiin


Dr. KH. Ali Akhmadi, MA alhafizh

SENIN SEHAT

28 Dzulqo'dah 1438 H / 21 Agustus 2017 M

Ya Allah segala puji untuk-Mu
Ya Allah dalam genggaman dan kekuasaan-Mu segala sesuatu dan semua urusan
Ya Allah ubun-ubun kami dalam genggaman-Mu
Ya Allah Engkau Maha Agung, Maha Mulia, Maha Besar, Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Halus, Maha Penyantun
Ya Allah tiada ilah kecuali Engkau. Rab Arsy yang Agung dang Tinggi.
Engkau pengabul doa para hamba-Mu, keputusan-Mu di atas semua keputusan, pengaturan-Mu di atas semua aturan
Ya Allah Engkau Maha Esa, Maha Perkasa, Engkau tempat bergantung
Ya Allah Engkau Maha Memudahkan segala yang sulit, penyembuh dari segala penyakit
Ya Allah mudahkanlah urusan kami dan saudara kami, sembuhkan penyakit diantara kami, sembuhkan kami, sembuhkan penyakit kami, tiada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu ya Allah, ya Allah, ya Allah kesembuhan yang tiada luka dan rasa sakit.
Ya Allah semoga semua saudaraku sehat jasmani dan rohani, dimudahkan segala urusan, diselamatkan dari segala kesulitan dan cobaan dan diberikan keberkahan
Ya Allah perkenankanlah permohonan kami, Engkau Maha Pengabul. aamiin

Dr. KH. Ali Akhmadi, MA alhafizh

AYO BERKURBAN

Ayo berkurban!
klik link berikut untuk proposalnya

Catatan Perjalanan JMQ di Bumi Cendrawasih tanah Papua

Malam ini begitu hening setelah seharian di guyur hujan yang cukup lebat, turut membersamai perjalanan Kafilah JMQ menuju bumi Cendrawasih tanah Papua. Sesuai dengan jadwal yang telah tertera di tiket pesawat bahwa perjalanan dari bandara Soekarno Hatta menuju bandara Sentani akan ditempuh dalam jangka waktu 6 jam.  Sebuah perjalanan  terjauh yang dilaksanakan oleh Kafilah JMQ Alhayah ke ujung timur Indonesia dimana  ada perbedaan dua jam lebih awal dari waktu Indonesia bagian Barat. 

Perjalanan JMQ Alhayah kali ini dipimpin langsung oleh Dr. KH Ali Akhmadi, alhafizh bersama tim media alhayah yang bertugas mengadakan tugas peliputan kegiatan selama di tanah Papua yang telah menjadi bagian tidak bisa dilepaskan dari masa lalu Indonesia. Papua adalah sebuah pulau yang terletak di sebelah utara Australia dan merupakan bagian dari wilayah timur Indonesia. Sebagian besar daratan Papua masih berupa hutan belantara. Papua merupakan pulau terbesar kedua di dunia setelah Greenland. Sekitar 47% wilayah pulau Papua merupakan bagian dari Indonesia, yaitu yang dikenal sebagai Netherland New Guinea, Irian Barat, West Irian, serta Irian Jaya, dan akhir-akhir ini dikenal sebagai Papua. Sebagian lainnya dari wilayah pulau ini adalah wilayah negara Papua New Guinea (Papua Nugini), yaitu bekas koloni Inggris. Populasi penduduk di antara kedua negara sebetulnya memiliki kekerabatan etnis, tetapi kemudian dipisahkan oleh sebuah garis perbatasan.

Papua memiliki luas area sekitar 421.981 kilometer persegi dengan jumlah populasi penduduk hanya sekitar 2,3 juta. Lebih dari 71% wilayah Papua merupakan hamparan hutan hujan tropis yang sulit ditembus karena terdiri atas lembah-lembah yang curam dan pegunungan tinggi, dan sebagian dari pegunungan tersebut diliputi oleh salju. Perbatasan antara Indonesia dengan Papua Nugini ditandai dengan 141 garis Bujur Timur yang memotong pulau Papua dari utara ke selatan.

Seperti juga sebagian besar pulau-pulau di Pasifik Selatan lainnya, penduduk Papua berasal dari daratan Asia yang bermigrasi dengan menggunakan kapal laut. Migrasi itu dimulai sejak 30.000 hingga 50.000 tahun yang lalu, dan mengakibatkan mereka berada di luar peradaban Indonesia yang modern, karena mereka tidak mungkin untuk melakukan pelayaran ke pulau-pulau lainnya yang lebih jauh.

Para penjelajah Eropa yang pertama kali datang ke Papua, menyebut penduduk setempat sebagai orang Melanesia. Asal kata Melanesia berasal dari kata Yunani, ‘Mela’ yang artinya ‘hitam’, karena kulit mereka berwarna gelap. Kemudian bangsa-bangsa di Asia Tenggara dan juga bangsa Portugis yang berinteraksi secara dekat dengan penduduk Papua, menyebut mereka sebagai orang Papua.

Papua sendiri menggambarkan sejarah masa lalu Indonesia, karena tercatat bahwa selama abad ke-18 Masehi, para penguasa dari kerajaan Sriwijaya, yang berpusat di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Palembang, Sumatera Selatan, mengirimkan persembahan kepada kerajaan Tiongkok. Di dalam persembahan itu terdapat beberapa ekor burung Cenderawasih, yang dipercaya sebagai burung dari taman surga yang merupakan hewan asli dari Papua, yang pada waktu itu dikenal sebagai ‘Janggi’.

Dalam catatan yang tertulis di dalam kitab Nagarakretagama, Papua juga termasuk kedalam wilayah kerajaan Majapahit (1293-1520). Selain tertulis dalam kitab yang merupakan himpunan sejarah yang dibuat oleh pemerintahan Kerajaan Majapahit tersebut, masuknya Papua kedalam wilayah kekuasaan Majapahit juga tercantum di dalam kitab Prapanca yang disusun pada tahun 1365.

Walaupun terdapat kontroversi seputar catatan sejarah tersebut, hal itu menegaskan bahwa Papua adalah sebagai bagian yang tidak terlepas dari jaringan kerajaan-kerajaan di Asia Tenggara yang berada di bawah kontrol kekuasaan kerajaan Majapahit.

Selama berabad-abad dalam paruh pertama milenium kedua, telah terjalin hubungan yang intensif antara Papua dengan pulau-pulau lainnya di Indonesia, yang hubungan tersebut bukan hanya sekadar kontak perdagangan yang bersifat sporadis antara penduduk Papua dengan orang-orang yang berasal dari pulau-pulau terdekat.

Selama kurun waktu tersebut, orang-orang dari pulau terdekat yang kemudian datang dan menjadi bagian dari Indonesia yang modern, menyatukan berbagai keragaman yang terserak di dalam kawasan Papua. Hal ini tentunya membutuhkan interaksi yang cukup intens dan waktu yang tidak sebentar agar para penduduk di Papua bisa belajar bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar, apalagi mengingat keanekaragaman bahasa yang mereka miliki. Pada tahun 1963, dari sekitar 700.000 populasi penduduk yang ada, 500.000 di antara mereka berbicara dalam 200 macam bahasa yang berbeda dan tidak dipahami antara satu dengan yang lainnya.

Beragamnya bahasa di antara sedikitnya populasi penduduk tersebut diakibatkan oleh terbentuknya kelompok-kelompok yang diisolasi oleh perbedaan antara yang satu dengan yang lainnya selama berabad-abad karena kepadatan hutan dan juga jurang yang curam yang sulit untuk dilalui yang memisahkan mereka. Oleh karena itu, sekarang ini ada 234 bahasa pengantar di Papua, dua dari bahasa kedua tanpa pembicara asli. Banyak dari bahasa ini hanya digunakan oleh 50 penutur atau kurang. Beberapa golongan kecil sudah punah, seperti Tandia, yang hanya digunakan oleh dua pembicara dan Mapia yang hanya digunakan oleh satu pembicara.

Sekarang ini bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa Indonesia, yang menjadi bahasa pengantar yang diajarkan di sekolah-sekolah dan merupakan bahasa di dalam melakukan berbagai transaksi. Bahasa Indonesia sendiri berasal dari bahasa melayu, versi pasar.
Perkembangan asal usul nama pulau Papua memiliki perjalanan yang panjang seiring dengan sejarah interaksi antara bangsa-bangsa asing dengan masyarakat Papua, termasuk pula dengan bahasa-bahasa lokal dalam memaknai nama Papua.

Provinsi Papua dulu mencakup seluruh wilayah Papua bagian barat. Pada masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda, wilayah ini dikenal sebagai Nugini Belanda (Nederlands Nieuw-Guinea atau Dutch New Guinea). Setelah berada bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia, wilayah ini dikenal sebagai Provinsi Irian Barat sejak tahun 1969 hingga 1973. Namanya kemudian diganti menjadi Irian Jaya oleh Soeharto pada saat meresmikan tambang tembaga dan emas Freeport, nama yang tetap digunakan secara resmi hingga tahun 2002.

UU No. 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Papua mengamanatkan nama provinsi ini untuk diganti menjadi Papua. Pada tahun 2003, disertai oleh berbagai protes (penggabungan Papua Tengah dan Papua Timur), Papua dibagi menjadi dua provinsi oleh pemerintah Indonesia; bagian timur tetap memakai nama Papua sedangkan bagian baratnya menjadi Provinsi Irian Jaya Barat (setahun kemudian menjadi Papua Barat). Bagian timur inilah yang menjadi wilayah Provinsi Papua pada saat ini.

Tepat pukul 23.30 menit WIB pesawat batik air yang membawa rombongan Kafilah JMQ Alhayah lepas landas menerobos pekat nya malam. Sesaat terlihat gemerlap lampu bagai jutaan kunang kunang terbang menyebar ke seluruh penjuru Ibukota menemani para penghuni nya yang sebagian besar telah larut dalam mimpi. Perlahan tapi pasti yang terlihat hanyalah suasana kegelapan yang tiada bertepi. Sesekali penumpang yang telah mulai menikmati kesunyian angkasa di malam hari ini terguncang dari tempat duduk mereka dan beberapa kali juga awak pesawat memperingatkan untuk tetap mengenakan sabuk keselamatan karena menabrak tebal nya awan yang tidak juga terlihat oleh mata. Hal ini justru menambah indahnya perjalanan Kafilah JMQ Alhayah kali ini, suasana begitu khidmah, lantunan dzikir dan doa tiada henti membasahi lisan sehingga menambah ketenangan di tengah suasana yang agak berbeda dengan perjalanan sebelumnya yang hanya di tempuh dalam jangka waktu 35 - 60 menit saja. 

Setelah kurang lebih 5 jam mengudara di atas gugusan tanah katulistiwa, nun jauh disana tampak sebuah daratan yang begitu menghijau.  Mengalir sungai yang berkelok kelok membelah rerimbunan pepohonan. Inilah tanah Papua yang begitu indah nan mempesona, yang mengundang bangsa lain untuk datang menggagahi. Inilah Bumi karunia Illahi yang subur Makmur gemah ripah loh jinawi yang saat ini tengah bangkit untuk mendapatkan jati diri. Menghantarkan para penghuni nya untuk mulai berbenah mengejar mimpi mewujudkan cita-cita yang telah sekian lama terpendam jauh di dasar bumi. 

Perlahan pesawat mulai turun dari ketinggian, semakin dekat dengan perbukitan yang indah mempesona seperti pemandangan di negeri dongeng Teletabis yang sempat populer di dunia anak di era awal abad milenia, indah nyata terpampang terhampar di depan mata. Tiada henti ungkapan rasa syukur mengagumi alam karunia Tuhan yang begitu mengagumkan. 

Tepat pukul 06.00 WIT, pesawat mendarat dengan mulus di bandara internasional Sentani, sebuah distrik yang jugaa acara,, umerupakan ibukota Kabupaten Jayapura, Papua. Suasana bandara yang tidak jauh berbeda dengan bandara bandara lain di wilayah Indonesia. Tidak menunggu begitu lama, panitia penjemputan telah datang menyambut dengan penuh suka cita. 

Setelah salam sapa penuh kehangatan, rombongan Kafilah JMQ Alhayah dibawa ke sebuah rumah makan yang hampir mirip dengan rumah makan padang pada umumnya. Sambil menunggu pesanan makanan siap untuk dihidangkan, rombongan disuguhkan dengan berbagai macam cerita tentang kondisi kehidupan masyarakat Papua dengan berbagai macam kearifan lokal yang telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Papua yang masih jauh tertinggal dari sisi pendidikan dan betapa mahal nya ongkos untuk membuat sebuah bangunan mengingat letak geografis Papua yang begitu luas membentang, dimana hanya pesawat perintis yang mampu menjadi penghubung nya. Tidak mengherankan jika harga satu sak semen sebesar 500rb rupiah, jauh harga biasanya sebesar 70rb di tanah Jawa. Belum lagi harga pokok sandang dan pangan yang juga begitu tinggi dan sulit didapatkan. Maka menjadi hal yang lumrah jika harga satu porsi ikan bakar gurami adalah 3 kali lipat dari harga yang biasanya disajikan di restoran restoran serupa di Jakarta. 

Suasana sarapan pagi yang begitu bersahabat. Gelak tawa turut mewarnai pertemuan karib kerabat yang belum begitu saling mengenal sebelumnya. Menyatu dalam suasana ukhuwah yang begitu indah. Sehingga tiada terasa lagi rasa kantuk dan lelah. 

Seusai santap pagi,  rombongan Kafilah JMQ Alhayah dibawa ke sebuah lembaga pendidikan yang terletak sekitar 5 km dari bandara Sentani. Sebuah lembaga Islam yang berdiri di tengah masyarakat non muslim. INSAN CENDIKIA PAPUA, itulah nama yang terpampang di papan nama yang tergantung di depan sebuah bangunan sederhana nan bersahaja.

Rombongan disambut dengan suka cita oleh pimpinan lembaga bersama para murid murid berpakaian pramuka lengkap dengan atribut yang disadang dan berbagai macam tanda kehormatan yang menandai betapa banyak kecakapan yang telah mereka miliki. Sejenak kemudian sesi perkenalan dimulai, sungguh sangat mengagumkan karena lembaga tersebut ditangani oleh para kaum muda yang memiliki kepedulian luar biasa akan keberlanjutan dakwah islam di tanah Papua. 

Dalam tausiyah nya, Dr. KH Ali Akhmadi, alhafizh menyuntikkan motivasi bagi para guru dan murid murid untuk terus meningkatkan kualitas hafalan alQur'an. Karena dengan mendalami alQur'an akan semakin meningkatkan kualitas pengetahuan seorang muslim. AlQur'an adalah pilar keilmuan dan sumber pengetahuan yang telah terbukti dengan banyaknya melahirkan ilmuwan muslim yang mewariskan ilmu pengetahuan yang begitu bermanfaat dan berharga bagi kehidupan umat manusia. Inilah Kitab yang akan kekal abadi sampai hari kiamat sebab tiada satupun kekuatan manusia dan jin mampu membuat kitab serupa. Kitab bacaan manusia yang berbeda dengan bacaan manusia pada umumnya karena setiap huruf nya adalah bernilai pahala bagi pembaca nya. 

Sebelum mengakhiri tausiyah, Dr. KH Ali Akhmadi, alhafizh mengajak para murid untuk memurojaah hafalan alQur'an mereka. Nampak mereka begitu bersemangat dalam melafadzkan ayat demi ayat yang telah mereka hafalkan sebelumnya. Suasana belajar alQur'an yang nampak begitu indah di tengah keterbatasan yang meliputi. Lantunan ayat ayat suci diantara kemerduan pujian pujian gereja yang begitu mendominasi. "Di pundak kalian masa depan Papua dititipkan, di hati dan pikiran kalian lah keberlanjutan dakwah Islam di bumi Cendrawasih dan di kaki kaki kalian yang akan mempertahankan eksistensi tanah Papua dari manusia yang tidak bertanggung jawab". 

Kegiatan Jaulah Ma'al Quran alQur'an kemudian berlanjut ke sebuah rumah makan di tepi danau Sentani. Sebuah danau yang terletak di provinsi Papua. Danau yang eksotik berada di bawah lereng Pegunungan Cagar Alam Cyclops yang memiliki luas sekitar 245.000 hektar. Danau ini terbentang antara Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura, Papua. Danau Sentani yang memiliki luas sekitar 9.360 hektar dan berada pada ketinggian 75 mdpl. Danau Sentani merupakan danau terluas di Papua.

Di danau ini juga terdapat 21 buah pulau kecil menghiasi danau yang indah ini. Arti kata Sentani berarti "di sini kami tinggal dengan damai”. Nama Sentani sendiri pertama kali disebut oleh seorang Pendeta Kristen BL Bin ketika melaksanakan misionaris di wilayah danau ini pada tahun 1898.

Suasana rumah makan dengan pemandangan danau Sentani yang begitu eksotik luas terhampar, diselingi semilir angin sepoi membuai mata untuk sejenak terpejam, melupakan sekilas perjalanan hidup yang begitu panjang dan melelahkan. Suasana makan siang kali ini terasa begitu bertambah nikmat dengan menu ikan segar yang diambil langsung danau Sentani yang mungkin sedikit berbeda dengan ikan air tawar yang hidup di danau lain di Indonesia. Karena konon danau ini pernah terhubung dengan lautan pada zaman dahulu kala. Di tengah suasana makan, Dr. Ali Akhmadi, alhafizh memberikan arahan arahan kepada rombongan bagaimana kiat kiat untuk memperluas dakwah islam dan alQur'an di tanah Papua. 

Seusai santap siang, rombongan Kafilah JMQ Alhayah diantarkan menuju hotel tempat menginap. Setelah meletakkan barang di dalam kamar, rombongan Kafilah JMQ dibawa ke sebuah masjid untuk meneruskan kegiatan Jaulah Ma'al Quran bersama jamaah Rumah alQur'an Papua. Sebuah pemandangan yang indah, dimana di dalam masjid telah berkumpul 300 an ibu ibu yang berasal dari kelompok kelompok kecil jamaah Rumah alQur'an yang telah melakukan kegiatan seperti ini secara rutin sepekan sekali selama 4 tahun. Adalah sebuah semangat yang patut di apresiasi di tengah misi kristenisasi yang telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Papua sebagaimana di kabarkan melalui media yang ternyata jauh dari fakta dan realita. Sungguh selama ini banyak sekali pemberitaan miring yang perlu diluruskan tentang kehidupan masyarakat Papua yang begitu aman dan damai.  

Dr. KH Ali Akhmadi, alhafizh memulai tausiyah dengan menyampaikan salam hormat dan apresiasi yang sebesar besarnya atas segala bentuk perjuangan yang tiada kenal lelah bagi para pecinta AlQuran yang telah membangun sebuah media untuk memasyarakatkan alQur'an, menjadikan alQur'an mengalir ke dalam pribadi umat Islam, mengalir di keluarga, mengalir di masyarakat dan mengalir di dalam institusi di tanah Papua dimana umat Islam adalah menjadi penduduk minoritas nya. Inilah bukti kemahabesaran Allah Ta'ala bahwa alQur'an diturunkan untuk memberikan solusi bagi setiap permasalahan yang dihadapi umat manusia sampai akhir zaman. 

Selanjutnya, beliau mengajak para hadirin untuk menjadikan keluarga sebagai pilar dalam mengajarkan alQur'an. Membiasakan diri untuk membaca seluruh alQur'an. Karena selama ini yang terjadi di tengah masyarakat adalah membaca sebagian surat tertentu seperti, alfatihah, Yasin, alwaqiah, arrahman, almulk, dan qulhu sementara itu surat yang lain ditinggalkan. Sehingga persepsi yang berkembang dalam masyarakat bahwa alQur'an itu adalah Yasin. Setiap acara surat tersebut dibaca, maka kemudian Yasin menjadi sebuah budaya dan menjadi sangat familiar di banding dengan surat yang lain. Meski beliau juga menyampaikan bahwa membaca Surat Yasin itu juga mendapatkan kebaikan akan tetapi kali membiasakan diri untuk membaca seluruh ayat dan surat dalam alQur'an,  itu akan memperoleh lebih banyak kebaikan. 

Diantara tausiyah nya beliau mengajak para jamaah untuk mengenali alQur'an, bahwa alQur'an itu adalah perkataan Allah yang diturunkan secara berangsur angsur dengan menggunakan bahasa Arab,  yang terdiri kata demi kata sehingga tersusun menjadi ayat.  Ayat demi ayat tersusun menjadi surat, dimana setiap surat memiliki nama masing-masing dan mengandung makna yang berbeda dengan surat yang lain. Untuk itu, beliau mengajak para jamaah terutama ibu ibu, untuk mengenali alQur'an sebagaimana mengenali keluarga nya sehingga akan menjadi cerdas huruf, cerdas kata, cerdas ayat, cerdas surat, cerdas juz dan cerdas alQur'an.  Dengan demikian alQur'an akan mengalir di lisan, pikiran dan sanubari yang akhirnya dapat menambah keberkahan hidup dan keluarganya. Tidak terasa Magrib hampir menjelang, ini menandakan perjalanan Jaulah Ma'al Quran harus dilanjutkan ke tempat yang lain. 

Sebelum meneruskan perjalanan Kafilah JMQ Alhayah bertemu dengan salah satu tokoh majelis taklim.  Dalam perbincangan nya tergambar betapa berat nya Medan dakwah yang harus dilalui oleh seorang dai atau daiyah di tanah Papua karena harus melakukan perjalanan dengan menggunakan pesawat dengan biaya yang tidak murah. Namun semua hal tersebut dilakukan dengan penuh dedikasi mengingat surga Allah telah menunggu bagi setiap hamba Nya yang bersungguh sungguh berjuang tanpa pamrih di jalan Nya. 

Perjalanan berlanjut di sebuah masjid yang berdiri kokoh dan megah di poros jalan menuju pusat kota Jayapura. Pada kesempatan kali ini, Dr. KH Ali Akhmadi, alhafizh di jadwalkan untuk menjadi imam. Usai shalat Maghrib para jamaah berebut bersalaman dengan beliau mengingat jarang sekali mereka mendapatkan imam sefashih beliau. Karena waktu yang cukup singkat dan masi ada beberapa agenda yang harus dilaksanakan, maka rombongan kemudian memohon diri untuk melanjutkan kegiatan berikut nya. 

Setelah beristirahat di hotel kurang lebih satu jam perjalanan Jaulah Ma'al Quran dilanjutkan di sebuah tempat yang cukup romantis di pinggir Teluk Kota Jayapura. Dalam pertemuan kali ini membahas tentang kondisi keberlanjutan dan pengembangan dakwah di tanah Papua. Mengenali seluk beluk kultur dan budaya masyarakat Papua sebagai persiapan dan koordinasi untuk pertemuan dengan para penggiat dakwah di seluruh pelosok tanah Papua esok hari. Pertemuan ini dilanjutkan dengan sesi makan malam dengan menu yang cukup istimewa.  Segenap Kafilah JMQ Alhayah merasa begitu terhormat dengan segenap pelayanan yang telah disiapkan oleh panitia penyelenggara JMQ Papua. 

Keesokan harinya setelah melakukan sarapan pagi, sekitar pukul 07.30 WIT acara kembali di mulai, bertempat di sebuah aula pertemuan yang cukup megah. Dalam kesempatan kali seluruh penggiat dakwah perwakilan dari beberapa Kabupaten dari seluruh Papua hadir. Kebetulan Dr. KH Ali Akhmadi, alhafizh di jadwalkan untuk menjadi Keynote Speaker nya.  Dalam statment pembuka beliau menyampaikan bahwa dakwah di tanah Papua ini adalah "boleh"  mengingat segala sesuatu itu adalah pada dasarnya hukum nya adalah mubah. Sebagai seorang dai atau daiyah harus bisa bersifat lentur sebagaimana para wali dulu mendakwahkan agama dengan lentur sehingga diterima dengan baik oleh masyarakat diminta notabene nya adalah beragama Hindu. Tanah Papua, menurut beliau adalah medan yang sangat baik untuk membuktikan kualitas seorang dai atau daiyah. Dakwah adalah komunikasi (muamalah Ma'al ummah), dakwah adalah sinergi (almuamalah bil ummah),  dakwah adalah solusi (ishlahul ummah), dan dakwah adalah penguasaan dan pengelolaan (saithorotil ummah). Untuk itu seorang dai dan daiyah seharusnya membaurkan diri untuk bersosialisasi, berinteraksi dan berorganisasi bersama masyarakat. Dan tidak kalah pentingnya adalah meningkatkan dan mengefektifkan sarana untuk membersamai masyarakat. Karena sesungguhnya dai dan daiyah itu adalah guru atau pembina Masyarakat yang menjadi motor penggerak umat yang melakukan kegiatan penataan, pengarahan dan kegiatan mengajak dalam menuju umat yang baik. Keberadaan da’i, guru, dan pembina masyarakat  sangat memiliki peran penting dan strategis yaitu untuk membangun peradaban terutama masyarakat yang memiliki keterbelakangan atau minim nya nilai-nilai keislaman.

Sosok seorang dai, guru, dan pembina masyarakat adalah sosok yang menjadi aktor dimasyarakat yang harus berpijak pada niat karena Allah swt, beramal shaleh, berjamaah, sabar dan ikhlas terhadap segala sesuatu nya. Namun makna ikhlas disini bukan berarti kita sebagai masyarakat yang menjadi objek perubahan hanya melihat pada sisi pengorbanan seorang dai, guru, dan pembina masyarakat saja, akan tetapi harus peka terhadap sesuatu yang dapat meringankan fungsi dan tugas para dai, guru dan pembina masyarakat. 

Setelah kurang lebih satu jam memberikan arahan dan taujih. Dr.  KH Ali Akhmadi,alhafizh beberapa rombongan Kafilah JMQ Alhayah diajak untuk mengunjungi titik nol Timur Indonesia di daerah Skouw yang terletak di Kampung Skouw Sae termasuk dalam wilayah administratif  Distrik Muara Tami dengan luas wilayah 52,7 km2 dan berbatasan langsung dengan wilayah negara Papua Nugini. 

Kampung Skouw Sae terletak disebelah timur kota Jayapura dengan jarak sekitar ±46 km. Untuk mencapai Kampung ini dari kota Jayapura dibutuhkan waktu perjalanan sekitar 1,5 jam dengan menggunakan kendaraan roda empat atau roda dua. Sedangkan jarak dari kantor Distrik Muara Tami ke lokasi kampung Skow Sae, diperlukan waktu perjalanan sekitar 10 menit atau berjarak sekitar ±3 km.

Di awal perjalanan, Kafilah JMQ Alhayah disuguhkan pemandangan kehidupan yang begitu kontra dengan kehidupan masyaraka di daerah lain di Indonesia. Kehidupan sosial masyarakat asli Papua yang masih begitu sederhana dengan kearifan lokal yang begitu kental yang sangat kontras dengan kehidupan masyarakat di wilayah lain di Indonesia. 

Di tengah perjalanan, Kafilah JMQ disuguhkan pemandangan kehidupan yang begitu bersahaja layak nya perkampungan di tanah Jawa. Itulah perkampungan kaum transmigrasi yang telah turun temurun mendiami tanah Papua dan telah turut serta menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat Papua. Peran mereka begitu besar, begitu terasa di tengah kearifan lokal Papua yang mungkin sedikit berbeda dengan kehidupan masyarakat di daerah lain di Indonesia pada umumnya. 

Begitu banyak hal dan informasi yang didapatkan sepanjang perjalanan menuju dan pulang dari titik nol ujung timur Indonesia. Rasa bangga dan sedih bercampur baur, membuncah di dalam dada rombongan Kafilah JMQ Alhayah. Bangga menjadi bagian dari bangsa Indonesia dengan berbagai macam keanekaragaman budaya nya, sedih melihat ketimpangan pembangunan yang belum merata dan dirasakan oleh seluruh penduduk nya. 

Inilah Bumi Cendrawasih. Tanah nya begitu luas nan subur Makmur tapi belum tergarap secara maksimal. Di perut bumi nya tersimpan aneka tambang yang begitu bernilai namun tidak dapat dinikmati sepenuhnya oleh anak negeri sendiri. Beginilah nasib pulau yang telah tergadai sampai saat ini dan entah sampai kapan nanti. Kesenjangan sosial telah menjadi pemandangan yang tidak nyaman di hati. Kadang kita saling menyalahkan mereka yang setiap saat bertikai, seringkali kita saling menghujat saudara seiman sekeyakinan meski mereka telah bersusah payah melaksanakan kebaikan yang memang belum sepenuhnya sesuai dengan pemahaman yang kita miliki. Tidak jarang pula kita merasa bahwa kita atau kelompok kita telah berbuat dan berkorban untuk menegakkan kalimat Allah dan agama Islam yang kita yakini. Seakan akan kita lah yang paling benar dalam beragama, sepertinya ibadah kitalah yang paling sesuai dengan amal Islami.  Apabila penyakit itu telah menyakiti, mari sempatkan waktu untuk melangkahkan kaki, bersilaturahmi dengan saudara saudara kita di tanah Papua ini. Mereka adalah anak bangsa Indonesia. Mereka begitu cinta dengan bahasa Indonesia. Mereka begitu bersemangat bertanah air Indonesia. Mereka adalah anak dari ibu pertiwi. Mereka bukan anak tiri atau bahkan kita anggap seperti budak yang bisa perlakukan seenak hati.  Tanah Papua adalah bagian dari untaian zamrud khatulistiwa.  Penduduknya adalah keluarga kita. Anak anak Papua adalah anak anak kita juga. Mereka adalah calon calon pemimpin bangsa Indonesia. 

Tim Media JMQ, 
Papua, 25-26 Maret 2017

KEINDAHAN MASA DEPAN


Goresan pena di kertas menyapa kesunyian malam, seakan berbisik "Hidupmu terlalu indah, aku iri padamu". Terlalu banyak jalan yang dilalui sehingga sang pena tak sanggup untuk menulisnya. Kubuka kembali lembaran kenangan yang telah sudah, disana kulihat banyak hal telah terlewati begitu saja, ingin kembali dan memperbaikinya, disaat kucoba untuk kembali, di persimpangan jalan aku diperlihatkan sesuatu yang sungguh indah hingga mengurungkan niatku untuk melanjutkan perjalanan, dan tetap berdiam disitu untuk waktu yang lama, disaat lamunan mulai menyerang jiwa, tiba-tiba sesuatu yang indah itu berkata: "kembalilah ke masamu saat ini, usahlah kau melanjutkan perjalanan ke masa lalumu, usahlah kau sesali masa lalumu yang kelam, kembalilah, disana kelak engkau akan di pertemukan sesuatu yang dapat memperbaiki kesalahanmu di masa lalu". Disaat itu aku tersadar dari lamunanku, sesuatu yang indah itu perlahan mulai menghilang dari tatapanku, perlahan tapi pasti sesuatu itu yang awalnya sangat jelas berubah menjadi buram dan kemudian menghilang entah kemana, ucapan tadi masuk ketelingaku kemudian menusuk kedalam urat nadiku mengalir bersama aliran darahku dan mengakar di dalam jantungku, sebuah ungkapan untuk tidak menyesali masa lalu dan berusaha memperbaiki di masa yang akan datang. Rasa bersalah itu selalu menghantui, namun kata taubat selalu menghiburku, disaat itu aku semakin yakin. Terimakasih ya Rabb, tanpa apapun hidup ini saja sudah merupakan anugerah yang besar, yang selalu engkau berikan kepada hamba-Mu, entah hamba-Mu itu berbakti kepada-Mu atau tidak, Engkau tanpa pamrih selalu mencurahkan rahmat-Mu. Seorang yang masa lalunya, puluhan tahun penuh dengan maksiat, bisa membawanya masuk kedalam surga hanya karena perbuatan baiknya selama lima menit. Penyesalan tidak akan bisa merubah sesuatu yang telah berlalu, tapi ia bisa memperbaiki untukmu di masa yang akan datang.

The Simple


AL-HAYAH PEDULI BANJIR