Antara Cinta dan Pengorbanan

Tags

Oleh : Abu Al-Hulya
Cinta adalah nikmat Allah kepada para hamba-Nya sebagai media untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Dengan cinta manusia tumbuh empati untuk berbagi, dengan cinta manusia akan berkorban bagi sesuatu yang mereka cintai, dengan cinta manusia bisa menemukan jalan menuju kekasih sejati, dan dengan cinta pula manusia bisa menggapai maqam tertinggi yang membedakannya dengan makhluk ciptaan Allah yang lain. Inilah cinta Allah dan rasul-Nya yang terarah, teruji, dan mampu dikendarai untuk mengejar ridha illahi. Firman Allah yang artinya Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. Katakanlah: "Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang Telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?" Katakanlah: "Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat." Demikianlah kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang Mengetahui. (QS. Al-A’raf : 31-32).
”Hai orang-orang mukmin, Sesungguhnya di antara Isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. At-Taghabun : 14-15)
Sebaliknya, cinta yang tidak disandarkan kepada Allah dan Rasul-Nya, maka akan menjatuhkan derajat kemanusiaan seorang hamba, menjadikannya pengikut syetan yang mengubah cinta menjadi nafsu angkara murka yang tidak pernah menemukan ujung pangkalnya. Hilang kepedulian kepada sesama, musnahnya rasa ikhlas, terhapusnya tenggang rasa, yang akhirnya terjabutnya iman dari dalam dada.
“Katakanlah: "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS At-Taubah ayat 24).
Cinta seorang muslim berbeda dengan cinta orang-orang munafik. Cinta seorang muslim tulus muncul atas dasar keimanan kepada Allah dan rasul-Nya. Hatinya senantiasa tertaut dengan-Nya, jiwanya hidup bersama-Nya, rindunya menggebu untuk segera bertemu dengan-Nya, lisannya selalu basah menyebut nama-Nya, hatinya bergetar ketika mendengar ayat-ayat-Nya, kakinya segera bergegas menuju kepada-Nya setiap kali Allah memanggil.
Inilah cinta seorang mukmin kepada Tuhannya. Cinta yang tak penah terbagi. Meski nyawa harus melayang di ujung sebilah pedang atau di atas tiang gantungan. Cinta Allah dan Rasul-Nya yang berujung pada kenikmatan abadi yang tiada pernah mengenal kata akhir. Cinta yang diwujudkan dengan mengikuti perintah-Nya, mengutamakan taat kepada-Nya dan mencari ridha-Nya. Sebaliknya cinta Allah kepada para hamba-Nya yang mukmin adalah pujian Allah atas mereka, pahala-Nya atas mereka, ampunan-Nya dan anugrah rahmat-Nya kepada mereka, pemeliharaan dari dosa dan taufik-Nya. Ali bin Abi Thalib berkata : "Barangsiapa yang merindukan surga tentu ia bergegas melangkah menuju segala macam kebaikan, barangsiapa yang takut kepada neraka tentu ia akan mencegah nafsunya dari kesenangan-kesenangan dan barangsiapa meyakini kematian tentu remeh baginya segala macam kelezatan dalam pandangannya".
Cinta berarti berani berkorban. Tulus ikhlas untuk mengorbankan apapun yang dicintainya. Inilah Nabi Ibrahim, seorang hamba Allah yang didalam al-Qur’an disebut sebagai ummat. Penyebutan ini adalah merupakan gambaran dirinya yang menjadi sosok penuh cinta dan telah sukses menanamkan rasa cinta kepada keluarganya. Cintanya kepada Allah telah mengalahkan cintanya kepada dirinya, meski telah diusir oleh orangtuanya akan tetapi ia tetap mendoakannya, Berkata bapaknya: "Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, Hai Ibrahim? jika kamu tidak berhenti, Maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah Aku buat waktu yang lama". Berkata Ibrahim: "Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, Aku akan memintakan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya dia sangat baik kepadaku.” (QS. Maryam : 47)
Kebesaran cinta nabi Ibrahim kepada dakwah juga telah beliau tampakkan ketika dihadapkan kepada bara api yang siap melalap tubuhnya, tidak nampak sedikitpun ketakutan diwajahnya, Sebagian ulama Salaf menyebutkan bahwa ketika Jibril menampakkan dirinya kepada Ibrahim di udara, ia bertanya kepada Ibrahim apakah Ibrahim memerlukan bantuan, kemudian Ibrahim menjawab tidak perlu bantuan. Inilah cinta telah terpatri hanya kepada Allah, tidak terbagi ataupun merengek-rengek minta dikasihani.
Cinta Nabi Ibrahim kepada sang Pencinta telah mengalahkan kecintaannya kepada anak-istrinya ketika perintah datang dari sang Kekasih untuk mengorbankan puteranya, Ismail sang permata hati yang telah sekian lama ditunggu kehadirannya. Tatkala seruan itu datang, dengan bijaksana, ia meminta pendapat lebih dahulu kepada putranya akan isyarat dari Allah tersebut sebagaimana difirmankan Allah dalam Al-Qur’an : "...Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya Aku melihat dalam mimpi bahwa Aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!..." (QS. Ash-Shaffat [37] : 102)
Jawaban Isma'il adalah membuktikan bahwa ia adalah seseorang yang memang dikabarkan oleh Allah sebagai seorang nabi dan rasul. Dalam suara yang penuh cinta dan dan kedekatan. Penyembelihan dirinya itu tidak membuatnya terkejut, takut, atau kehilangan akal sehatnya. Bahkan, juga tidak menghilangkan akhlaq dan kasih sayangnya, sebagaimana firman Allah : "...Ia menjawab:"Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". (QS. Ash-Shaffat [37] : 102)
Isma’il berusaha memahami apa yang dirasakan oleh ayahandanya dan berusaha meyakinkan bahwa mimpi itu adalah perintah Allah. Ungkapannya itu merupakan bentuk akhlaq bersama Allah yang mengetahui batas-batas kemampuannya dalam menanggung perintah, dan meminta pertolongan kepada Rabbnya dari kelemahannya. Alangkah indahnya akhlaknya terhadap Allah, betapa besar cintanya kepada Allah, melebihi kecintaannya kepada dirinya sendiri.
Ibrahim berjalan diiringi putranya Isma'il ke sebuah tempat yang sunyi pinggiran Makkah, Mina. Sebelum acara penyembelihan tersebut dimulai Isma'il mengajukan tiga permohonan, yaitu; pertama, sebelum dia disembelih hendaknya ayahnya menajamkan pisaunya agar ia cepat mati dan tidak timbul kasihan maupun penyesalan dari ayahnya; kedua, ketika menyembelih, muka Isma'il harus ditutup agar tidak timbul rasa ragu dalam hati ayahnya; ketiga, bila penyembelihan tersebut telah selasai, maka pakainnya yang berlumuran darah dibawa kehadapan ibunya, sebagai saksi bahwa kurban telah dilaksanakan.
Adakah generasi muda saat ini yang dengan tulus menyerahkan dirinya kepada Allah SWT? Inilah contoh teladan sepanjang zaman. Kemudian Ibrahim membaringkan putranya diatas pelipisnya untuk bersiap-siap menghadapi perintah Allah ini. Keduanya telah menyerahkan diri. Dan inilah hakekat Islam yang sesungguhnya. Keyakinan, ketaatan, ketenangan, keridhaan, penyerahan diri dan pelaksanaan. Tidak ada darah yang bergolak, tidak ada semangat yang berlebihan, juga tidak ada kesembronoan yang tergesa-gesa, yang dibelakangnya tersembunyi rasa takut, tapi ini adalah penyerahan diri yang sadar, berakal, bertujuan, dan merasa tenang dengan apa yang akan terjadi.
Sesudah nyata kesabaran dan ketaatan Ibrahim dan Ismail. Cobaan sudah terlaksana. Ujian sudah terjadi. Hasilnya telah nampak. Tujuan sudah terlaksana. Sehingga yang tersisa hanya kepedihan tubuh. Darah yang dialirkan dan tubuh yang disembelih. Namun Allah SWT tidak berkehendak untuk mengazab hamba-hamba-Nya dengan cobaan. Juga tidak menghendaki darah dan tubuh keduanya sama sekali. Kemudian Allah menebus jiwa yang telah menyerahkan dirinya dan menunaikan tugasnya. Dia menebusnya dengan seekor sembelihan yang besar. Seekor kambing yang telah disiapkan Allah untuk disembelih oleh Ibrahim sebagai ganti putranya, Isma'il. Allah berfirman : “Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. Ash-Shaffat [37] : 107)
Peristiwa inilah kemudian diabadikan oleh Allah SWT menjadi salah satu unsur syari'at Islam, yakni al-Udhiyyahyang hingga kini dilaksanakan bagi mereka yang mampu. Sebagai pengingat bagi kejadian besar ini, yang mengangkat menara bagi hakekat keimanan, keindahan ketaatan, kecintaan yang tak pernah tergadaikan.
Al-Udhiyyah atau Kurban berarti menyembelih binatang di waktu matahari sedang naik di pagi hari atau berkurban. Berasal dari kata dahwah atau dhuha (waktu sedang naik di pagi hari). Dari kata dahwah atau dhuha tersebut diambil kata dahiyah yang jamaknya udhiyyah. Berkurban adalah sebagai wujud daripada loyalitas dan kecintaan, serta kesyukuran atas nikmat yang telah dilimpahkan Allah kepada para hamba-Nya. Firman Allah : "Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat Karena Tuhanmu; dan berkorbanlah". (QS. Al-Kautsar [108] : 1-3)
Nikmat Allah telah tersebar di seluruh kehidupan kita, dari semenjak bangun tidur hingga tidur kembali, nikmat yang tidak akan pernah terhitung. Kewajiban kita bukan menghitungnya, namun adalah mensyukuri. Syukur sebagai ungkapan terima kasih kepada-Nya. Dan salah satu tanda kesyukuran itu adalah mengalirkan darah hewan kurban. Dalam haditsyang diriwayatkan oleh Aisyah bahwa Rasulullah SAW bersabda : "Sesungguhnya darah orang yang berkorban itu datang pada hari kiamat membawa tanduk, bulu, dan kuku binatang kurban itu dan sesungguhnya darah (kurban) yang mengalir itu akan lebih cepat sampai kepada Allah dari (darah) jatuh di permukaan bumi. Maka sucikanlah dirimu dengan berkurban itu".(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah). Dalam hadits yang lain, yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang memiliki kelebihan, tetapi tidak berkorban, maka jangan menghampiri mushalla kami" (HR. Ibnu Majah)
Ibadah kurban merupakan momentum yang tepat untuk meneladani nilai-nilai yang ada padanya, yaitu; pengorbanan, perjuangan dan pertolongan sebagaimana kisah Nabi Ibrahim dan putranya, Isma'il. Bagi mereka yang melaksanakan akan mendapatkan ganjaran kebaikan dari Allah sementara itu bagi mereka yang mendapatkan daging tersebut adalah nikmat yang sangat didambakan oleh saudara-saudara kita yang kekurangan asupan protein hewani. Sebagaimana kita saksikan kondisi bangsa ini terpuruk dalam kemiskinan yang semakin lama semakin bertambah. Kelaparan, qizi buruk, kekurangan makanan menjadi pemandangan yang setiap hari berseliweran di pelupuk mata kita.

Marilah kita berdoa semoga pada tahun ini, kita mampu melaksanakan ibadah kurban, sebagai bukti cinta kepada Allah serta ketaatan kepada rasul-Nya. Amin Yaa Rabbal Alamin.