HAKEKAT KEBAHAGIAAN

Abu Al-Hulya
Demikianlah Allah telah menciptakan segala sesuatu di dunia ini berpasang-pasangan. Ada siang ada malam, ada pria ada wanita, ada kesulitan ada kemudahan, ada benci ada cinta, ada suka ada duka, ada sedih ada bahagia. Bahkan di akhirat pun Allah telah menciptakan untuk semua makhluknya dua tempat yang istimewa yakni surga sebagai tempatnya kebahagiaan seorang hamba yang beriman dan beramal shaleh ketika di dunia dan neraka sebagai tempat siksa bagi hamba-Nya yang telah mendustakan ayat-ayat Allah semasa hidup di dunia.
Sudah menjadi sebuah ketentuan bahwa sedih dan bahagia senantiasa menyertai kehidupan manusia. Jarang sekali manusia yang hidup dalam kebahagiaan atau bersedih secara terus menerus, meskipun hidup bergelimang harta dan berkedudukan tinggi sekalipun. Bahkan nabi dan rasul pun pernah mengalami apa yang disebut dengan kesedihan. Nabi Adam bersedih hati ketika telah melanggar ketentuan Allah untuk tidak memakan buah khuldi dan harus diusir dari surga serta dipisahkan dari siti Hawa, nabi Nuh bersedih ketika anaknya, Kan’an tidak bersedia mengikutinya untuk naik keatas bahtera yang ditumpanginya, Nabi Ibrahim bersedih ketika ayahnya, Azar tidak bersedia meninggalkan patung-patungnya. Nabi Luth bersedih ketika melihat kaumnya melakukan tindakan asusila, Nabi shaleh bersedih ketika kaumnya membunuh ontanya, Nabi Syuib bersedih ketika menyaksikan kaumnya mengurangi takaran dalam timbangannya,  Nabi Yunus bersedih dan kecewa kepada kaumnya yang terus mendustakannya, nabi Musa bersedih karena kaumnya, Bani Israil membangkang perintahnya untuk memasuki Baitul Maqdis, bahkan nabi Muhammad SAW pernah mengalami “‘amul khuzni” (tahun kesedihan) ketika istrinya, Khadijah dan pamanya, Abu Thalib meninggal dunia.
Tentunya beragam sikap manusia dalam menyikapi kesedihan dan kebahagiannya. Tergantung dari segi dan tingkat pemahaman seseorang kepada agamanya dan ketergantungannya kepada sang Pencipta. Secara umum, kebahagiaan di dunia identik dengan senyum yang tersungging di bibir, mata yang berbinar-binar, dan raut muka yang berseri-seri. Sementara kesedihan biasanya itu digambarkan dengan wajah yang murung, bibir yang cemberut, mimik muka yang kusut, dan mata yang mengatung.
Ketika kebahagiaan itu diukur dengan penampilan yang tergambar melalui raut muka, maka kadang kala kita tertipu karenanya. Sebab inti dari kebahagiaan itu adalah di dalam hati. Ketika hal-hal yang membahagiakan itu menjadikan hati merasa tentram “sakinah” berarti itu adalah kebahagiaan yang sebenarnya, akan tetapi ketika hal-hal yang membahagiakan itu justru menjadikan hati kita merasa hampa maka itu adalah kebahagiaan yang semu. Biasanya kebahagiaan model ini dialami oleh para pemburu dunia.
Selanjutnya, berbicara tentang “sa’adah” (bahagia) berarti kita berbicara tentang bahagia yang menejadikan hati kita sakinah (tentram dan damai) sehingga semakin mendekatkanya kita dengan “sa’adah” yang akan kita dapati di kehidupan berikutnya. Inilah kebahagiaan pemburu surga. Mereka berbahagia ketika telah menyisihkan sebagian rizkinya untuk kaum fakir dan dhuafa, mereka bersenang hati ketika mampu memenuhi panggilan Rabbnya untuk menunaikan shalat berjamaah di masjid atau mushalla, mereka bersuka cita ketika diberikan kesempatan untuk turut serta membantu kesusahan sesama, mereka berbahagia ketika bertemu dengan saudara-saudaranya dalam sebuah majelis ilmu agama, mereka bersenang hati ketika mampu membaca ayat-ayat Allah dalam setiap waktunya, bahkan tatkala malaikat maut menjemputpun, dimana orang-orang sekelilingnya berduka cita, justru ia tersenyum bahagia karena sebentar lagi akan bersua dengan kekasihnya demi menemukan kebahagiaan yang selalu diidam-idamkannya.

Inilah kebahagiaan para calon-calon penghuni surga yang akan menggapai sa’adah (kebagiaan) yang sesungguhnya, sebab sa’adah yang hakiki adalah kebahagiaan yang akan didapatkan oleh seorang hamba di sisi Rabbnya di akhirat yakni surga yang kekal nan abadi. Wallahu a’lam bishshawab. 

0 Comments