HAKEKAT KEMENANGAN YANG SESUNGGUHNYA

Tags

Oleh : Abu Al-Hulya
 Menang atau menjadi pemenang dalam sebuah kompetisi atau lomba adalah sebuah hal yang sangat membanggakan. Kemenangan biasanya identik dengan hadiah atau piala, sanjungan atau nama yang harum, popularitas, tumbuhnya gairah hidup dan meningkatnya kepercayaan diri karena telah mampu mencapai apa yang dicita-citakan.
Berbeda dengan mereka yang kalah dalam sebuah kompetisi atau per


lombaan. Kekalahan identik dengan rasa kecewa, sakit hati, dan melemahnya semangat hidup mengingat telah begitu banyak pengorbanan yang telah dikeluarkan akan tetapi belum membuahkan hasil.
Istilah menang dan kalah dalam sebuah perlombaan sebenarnya sesuatu yang lumrah dan biasa dengan syarat telah melakukan perlombaan tersebut dengan sportif, penuh pengorbanan dan perjuangan yang sesungguhnya. Karena hakekatnya kekalahan adalah sebuah kemenangan yang tertunda sedangkan kemenangan adalah kekalahan yang tertunda. Tidak ada zona yang aman di dunia ini. Semua butuh kesungguhan dalam mengapainya atau mempertahankannya. Seorang pemenang akan jatuh menjadi pecundang ketika lengah dalam mempertahankan kemenangannya sebaliknya seorang yang kalah akan berbalik unggul ketika mampu membuktikan diri bahwa dirinya lah yang menjadi pemenangnya.
Inilah kehidupan dunia yang mengharuskan setiap yang hidup untuk berlomba dalam mempertahankan existensinya di muka bumi. Faktanya, bukan hanya manusia saja yang berlomba-lomba dalam hidupnya, akan tetapi binatang dan tumbuh-tumbuhan juga berlomba-lomba mempertahankan keberadaan dirinya dan jenisnya. Maka dari itu perlombaan adalah sebuah keniscayaan bagi siapapun hidup di dunia ini, bahkan sangat mungkin terjadi sebelum makhluk hidup terlahir ke muka bumi.
Hakekatnya, setiap perjalanan hidup ini adalah perlombaan yang telah dialami setiap individu manusia semenjak masih berupa nuthfah (sperma) yang terpancar ke dalam rahim seorang wanita. Menurut ilmu medis dari sekian juta nutfah atau sperma yang terpancar hanya ada satu yang akan dapat membuahi indung telur yang kemudian akan menjadi janin. Ini berarti telah terjadi perlombaan yang sangat sengit dari sekian juta sperma yang akhirnya hanya ada satu pemenangnya. Setelah itu nuthfah yang telah bersenyawa dengan sel telur kemudian menjadi alaqah (segumpal darah) kemudian menjadi mudghah (segumpal daging) kemudian dibentuk menjadi izamun (tulang) yang kemudian dibalut dengan lahmun (otot) setelah itu berubah bentuknya menjadi wujud bayi yang mendekati sempurna yang akhirnya ditiupkan ruh ke dalam jiwanya sebelum ia terlahir ke muka bumi ini.
Demikianlah setiap jengkal langkahnya manusia senantiasa dilalui dengan perlombaan baik itu yang berupa urusan dunia maupun urusan akhiratnya. Akan tetapi biasanya kebanyakan manusia cenderung akan lebih bersemangat ketika berlomba dalam urusan dunianya. Para olahragawan berlomba untuk menjadi juara, para pebisnis berlomba untuk meraup keuntungan yang sebesar-besarnya, para pegawai atau buruh berlomba-lomba untuk secepatnya menyelesaikan pekerjaannya, para pemberi jasa berlomba untuk memberikan pelayanan yang terbaik untuk para pelanggannya, para murid berlomba untuk memperoleh nilai yang terbaik, dan masih banyak para-para yang lain yang setiap hari berlomba untuk kepentingan dunianya.
Inilah yang mungkin rutinitas hidup yang kita jalani setiap harinya yang menuntut untuk kita berlomba-lomba dalam menjalaninya. Semenjak pagi kita sudah berlomba-lomba memacu kendaraan karena ingin secepatnya sampai di tempat kerja, demikian pula sebaliknya di sore hari ketika pulang dari tempat kerja, kita berlomba-lomba untuk mencapai rumah tempat tinggal dengan secepat-cepatnya. Dan perlombaan yang sesungguhnya adalah yang kita lakukan di tempat kerja. Disinilah akan nampak betapa semua orang sibuk berlomba-lomba untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya dari sesuatu yang kita kerjakan yang terkadang menggunakan segala macam cara untuk sesuatu yang menguntungkan kita.
Namun apakah kita juga berlomba-lomba untuk urusan akhirat kita?
Inilah sebuah pertanyaan yang harus kita jawab setelah sebulan penuh lamanya kita menjalankan ibadah puasa di dalamnya. Apakah puasa kita telah benar-benar memenuhi syarat dan rukunnya atau hanya sekedar meninggalkan makan di minum semata sementara itu kita masih belum bisa meninggalkan maksiyat yang dapat menggugurkan pahala puasa?
Hakekatnya, perlombaan tersebut telah usai semenjak takbir berkumandang. Hari-hari yang didalamnya terdapat malam kemuliaan pun telah berlalu. Pertanyaannya, pantaskah kita menyandang predikat muttaqien sebagai gelar atas prestasi yang kita peroleh setelah sebulan penuh kita menjalankan puasa atau justru hanya sebuah pengakuan untuk menyenangkan diri kita sehingga kita bisa melakukan apapun aktivitas dalam rangka memuaskan nafsu kita.
Tanpa mengecilkan perjuangan dan pengorbanan kita selama Ramadhan, marilah kita selami diri kita apakah memang predikat muttaqien tersebut telah tersandang dalam diri kita atau Allah telah sematkan di dalam jiwa kita.
Inilah predikat Muttaqien yang didapatkan oleh oleh orang-orang yang beriman setelah berpuasa dengan bersungguh-sungguh mengharap ridha Allah semata. Memang, hanya Allah lah yang berhak menilai apakah puasa seorang hamba tersebut diterima atau tidak, akan tetapi kita dapat mengetahuinya bagaimana dampak puasa tersebut telah mengubah perilaku dan tata cara kehidupannya menjadi lebih baik dan tertata dengan rapi sesuai dengan tuntunan dan syariah yang dibawa oleh Rasulullah SAW.
Puasa telah mengantarkan kita untuk turut serta merasakan penderitaan orang lain, puasa juga telah mengantarkan kita untuk menjadi orang yang rajin bangun malam untuk melaksanakan qiyamul lail, puasa juga telah mengantarkan kita untuk lebih banyak berinteraksi dengan al-Qur’an, puasa juga telah mengantarkan kita untuk membersihkan harta kita, puasa juga telah menjadikan kita manusia yang mawas diri, akhirnya puasa juga kita telah mengantarkan jiwa menjadi lebih kuat dalam menahan segala bentuk kemaksiatan.
Lantas bagaimana disebut muttaqien ketika menjadi pribadi yang enggan untuk menjalankan perintah-Nya dan senang menjalankan larangan-Nya. Karena yang dimaksud dengan larangan dan perintah ini adalah syariat yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Yang mana justru sebagian besar ummat muslim merasa ketakutan ketika disebutkan untuk menjalankan menegakkannya, padahal dalam menjalani rangkaian kehidupan ini semuanya harus dengan menjalankan syariat, contoh; pernikahan, bagaimana mungkin seorang muslim dan muslimah dikatakan sah perkawinannya bilamana tidak menjalankan syariat di dalamnya. Demikian hal yang lain seperti shalat, zakat, puasa, haji dan semua jenis ibadah selalu menuntut sebuah aturan (syariah) di dalamnya, tanpa adanya syariat di dalamnya maka batallah ibadahnya tersebut karena telah keluar dari aturan yang apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya.
Maka dari itu, sebagai pribadi yang telah kembali kepada fitrahnya, sudah selayaknya kita kembali kepada syariat Islam yang benar, meskipun asumsi (anggapan) sebagian masyarakat yang dinamakan dengan penegakan syariah adalah adanya potong tangan dan lain sebagaimanya yang identik dengan kekerasan dan pelanggaran HAM. Padahal hal tersebut hanya dapat dilakukan oleh keputusan pemerintah yang sah. Yang mana hal in tidak dapat dilaksanakan di negeri kita ini.
Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin, yang membawa kebaikan kepada seluruh alam. Syariat (aturannya) nya tidak pernah memberatkan para penganutnya akan tetapi justru memudahkannya untuk menjalani proses penghambaan dirinya kepada Allah Ta’ala. Apalah jadinya bilamana kehidupan ini tidak ada syariat yang mengaturnya, tentunya akan terjadi kerusakan di dalamnya sehingga akan membawa kepada kehancuran peradaban manusia.
Demikianlah Allah Ta’ala telah menjelaskan penerapan syariat Islam dalam segala sendi kehidupan, diantara dalil-dalil tersebut adalah sebagai berikut :
“Maka putuskan hukum di antara mereka menurut apa yang diturunkan Alloh, dan jangan menuruti hawa nafsu mereka untuk meninggalkan kebenaran yang telah diturunkan padamu…” (QS. Al-Maidah: 48)
“Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang telah Allah turunkan, maka mereka itu orang-orang kafir” (QS. Al-Maidah: 44)
"Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang telah Allah turunkan, maka mereka itu orang-orang zalim" (QS. Al-Maidah: 45(
"Dan barang siapa yang tidak berhukum dengan apa yang telah Allah turunkan, maka mereka itu orang-orang fasik" )QS. Al-Maidah: 47)
“Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sehingga mereka bertahkim kepadamu dalam segala perselisihan diantara mereka. Kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hatinya menerima hukummu (putusanmu) dan mereka sepenuhnya menyerah kepadamu(QS. An-Nisa: 65)
Wahai orang-orang beriman, patuhlah kepada Allah, patuhlah kepada Rasul dan orang-orang yang memerintah (Ulil Amri) di antara kamu (Kaum muslimin)” (QS. An-Nisa: 59)
Jika kamu menghukumi di antara manusia, maka hukumilah kamu dengan (hukuman) yang adil" )QS. An-Nisa: 58(
Menyimak dalil-dalil diatas, apakah yang kita ragukan lagi untuk menerapkan syariah Islam dalam kehidupan kita?
Tidak ada yang harus kita ragukan lagi untuk menerapkan syariah Allah dan Rasul-Nya dalam meniti kehidupan dunia ini jika memang kita telah ditetapkan sebagai pemenang dalam perlombaan di bulan Ramadhan tahun ini. Tidak memilih syariah dalam menata kehidupan berarti kemunduran karena kita akan kembali lagi kepada zaman jahiliyyah yang ketika itu tidak ada aturan yang mengatur kehidupan yang memanusiakan manusia.
Disadari atau tidak umat Islam di negeri ini telah mengadopsi aturan-aturan barat yang lebih mementingkan hawa nafsunya yang kelihatannya lebih humanis akan tetapi faktanya malah menggerogoti nilai kemanusiaan itu sendiri. Dan inilah yang mungkin dikatakan sebagai jahiliyyah modern.

Ingatlah bahwa syariah adalah aturan yang dibuat oleh Allah, maka tidak mungkin Allah akan membebani ciptaan-Nya dengan sesuatu yang tidak bisa dijalankannya. Syariah adalah merupakan jalan Allah, sehingga tentunya barangsiapa yang berjalan di jalan-Nya maka akan selamat sampai ditujuannya. Sesuai dengan firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 148 bahwa “setiap umat memiliki kiblat yang dia menghadap kepadanya, maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan…” sehingga perlombaan ini akan menjadi sebuah kompetisi yang indah sebab sudah jelas tujuan dan jalan yang harus dilaluinya. Wallahu a’lam bishawab.