Menjadi Generasi Pewaris Negeri oleh Abu Al-Hulya

“Dan Kami wariskan kepada kaum yang telah ditindas itu, negeri-negeri bagian timur bumi dan bagian baratnya yang telah Kami beri berkah padanya. Dan telah sempurnalah perkataan Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir´aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka.” (QS. Al-A’raf : 137)
Berbicara tentang bumi, sepertinya kehabisan kata untuk mengungkapanya. Sebuah maha karya sempurna yang tidak ada bandingannya. Sebuah benda langit yang merupakan bagian dari tata surya yang terdapat kehidupan di dalamnya. Sebuah planet yang diliputi oleh lapisan atmosfer yang melindunginya dari benda-benda langit lainnya. Sebuah bola raksasa yang terdiri atas tanah, bebatuan, pasir, air, dan udara yang terus berputar pada porosnya dan beredar sesuai dengan sumbunya. Inilah bumi, mahakarya Allah SWT yang mustahil manusia mampu menciptakannya.
Konon bumi ini diciptakan oleh Allah, jauh sebelum Adam diciptakan. Para ahli geologi dan ahli archeology berpendapat bahwa bumi ini telah berumur jutaan bahkan milyaran tahun. Demikian halnya sebagian ahli tafsir juga berpendapat bahwa ada makhluk selain manusia yang tinggal di bumi, akan tetapi mereka berbuat kerusakan maka makhluk tersebut dimusnahkan dari muka bumi.
Demikianlah, semenjak Adam diturunkan di muka bumi ini. Telah banyak peristiwa dan kejadian luar biasa yang terjadi diatasnya sebagai bentuk kuasa Allah bagi para makhluk-Nya yang berbuat keji. Kaum nabi Nuh dimusnahkan dengan banjir yang melanda seluruh muka bumi. Kaum ‘Ad, umat nabi Hud juga telah dibinasakan dengan angin yang bertiup sangat kencang. Kaum Tsamud, umat nabi Shaleh juga telah dihancur leburkan dengan suara Guntur yang menggelagar. Kaum nabi Luth dihujani batu sehingga meluluh lantakkan tubuh dan tempat tinggal mereka. Demikian halnya yang terjadi pada kaum Saba’ yang awalnya hidup subur makmur, karena mereka berpaling dari Allah, maka dihancurkan dengan banjir bandang yang disebabkan runtuhnya bendungan Ma’rib yang mereka banggakan. Disamping itu, telah banyak perstiwa terkini yang memiriskan hati, seperti tsunami, tanah longsor, gunung meletus banjir bandang, kekeringan yang tidak dapat diketahui kapan semua peristiwa tersebut tepat terjadi.
Sungguh bumi ini telah tua renta bila kita menyimak rangkaian peristiwa yang terjadi. Meski kita juga tidak tahu kapan akan berakhir cerita bumi ini. Akan tetapi sebagai manusia yang dikaruniai akal pikiran tentunya kita menyadari bahwa umur bumi ini tidak akan lama lagi, mengingat setelah Nabi Muhammad SAW berpulang keharibaan-Nya, tidak ada lagi nabi setelah beliau.
Apabila bumi ini telah tua renta, maka demikian halnya dengan Bangsa Indonesia yang merupakan bagian dari bumi ini yang juga akan hancur lebur ketika kiamat itu tiba. Negeri yang terdiri atas gugusan ribuan pulau-pulau yang membentang dari Sabang sampai Merauke dengan berbagai ragam corak kehidupannya. Negeri nan indah yang sebagian orang mengatakan sebagai surganya bumi ini. Negeri subur makmur, tongkat dan kayu pun jadi tanaman. Negeri yang selalu didambakan menjadi paru-paru dunia yang akan menjaga eksistensi kehidupan dunia, karena didalamnya masih terbentang luas hutan rimba. Negeri elok rupawan yang di dalam tanah tersimpan emas dan berlian. Dan yang paling utama adalah negeri yang memiliki populasi muslim terbesar di dunia.
Namun sudahkah kita bersyukur dengan segala anugerah yang diberikan kepada negeri kita? Atau justru kita berpaling dari-Nya dengan berbuat kerusakan diatas negeri ini. Tentu kita tidak menginginkan kejadian yang dialami oleh kaum Saba, Kaum ‘Ad, Kaum Sodom dan kaum-kaum yang lainnya yang telah dihancurkan Allah karena berpaling dari-Nya. Tentu kita ingin negeri ini tetap aman dan damai sampai kiamat itu tiba. Oleh karena itu, kita harus menyiapkan diri kita atau menyiapkan generasi baru yang siap untuk mewarisi negeri ini.
Lantas siapakah orangnya, yang pantas untuk mewarisi negeri ini sebelum kehancuran itu tiba dan siapakah yang akan menjaga bumi pertiwi dari segala kerusakan sebelum kiamat itu datang.
Sebuah pertanyaan yang mudah untuk dijawab apabila kita menyimak al-Qur’an. Dengan jelas Allah SWT berfiman bahwa negeri ini diwariskan bagi orang-orang shaleh, sebagaimana termaktub dalam surat al-Anbiya’ ayat 105 :
 “Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini diwariskan bagi hamba-hamba-Ku yang saleh”. (QS. Al-Anbiya’ 105)
Dalam ayat yang lain Allah berfirman:
Musa berkata kepada kaumnya: "Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah; sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah; diwariskan-Nya kepada siapa yang dihendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa". (QS. Al-A’raf : 128)
Dalam ayat yang lain Allah juga berfirman :
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku “ ( QS. An-Nur : 55 ).
Dari ayat-ayat Allah tersebut sangat jelas bahwasanya bumi ini diwariskan bagi mereka mampu menjadikan dirinya, pribadi yang shalihun linafsihi wa mushlihun li ghairihi (baik untuk dirinya dan memberikan dampak kebaikan untuk orang lain). Inilah pribadi “khairul ummah” yang mampu mengajak kepada kebaikan dan sanggup menjauhkan diri dari kemungkaran. Tidak mudah goyah oleh rayuan kenikmatan sesaat, tidak mudah luntur untuk turut menggadaikan negerinya sendiri ke bangsa lain meski raganya hancur lebur, mereka begitu mencintai negerinya karena mereka sadar bahwa cinta tanah air itu adalah sebagian dari iman.
Pertanyaannya kemudian, siapakah mereka itu dan bagaimana kepribadian mereka sehingga mampu berbuat sedemikian rupa?
Mereka itu adalah orang - orang yang memiliki jiwa yang terasah dan terdidik dengan baik, yang mengerti kebenaran dari sumber aslinya, dan yang memahami kebenaran tersebut lalu mengamalkan dan mengajarkannya.
Syekh Abdurrahman alBanna, seorang tokoh pembaharuan Mesir menuliskan sepuluh kriteria pribadi muslim yang dapat kita jadikan sebagai sebuah rujukan untuk menilai sebenarnya siapakah yang cocok untuk mewarisi negeri ini, diantara sifat dan kharakter tersebut adalah sebagai berikut :
Pertama, Bersih Akidahnya. Akidah yang lurus adalah sesuatu yang mutlak diperlukan, karena akidah adalah pondasi dari segala bentuk tindakan. Seseorang yang lurus akidahnya maka, ia akan mengorbankan apapun yang dimilikinya untuk kepentingan Allah semata, “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku semuanya karena Allah Rabb semesta alama” (QS. Al-An’am : 162).
Kedua, Benar ibadahnya. Ibadah adalah sarana seorang hamba untuk berkomunikasi dengan Allah sekaligus sebagai bukti penghambaan kepada-Nya. Benar ibadahnya berarti ia telah belajar bagaimana menghambakan dirinya dengan cara yang telah dicontohkan oleh utusan-Nya dengan cara yang benar dan melalui orang-orang yang benar sehingga sampai kepada Rasulullah SAW. Tidak ada yang berlebihan dan tidak ada yang dikurangi, “Shalatlah kamu sepert yang kamu lihat aku shalat” (HR. Bukhari).
Ketiga, Kokoh Akhalaqnya. Akhlak atau kita mengatakan sebagai pekerti adalah merupakan buah dari akidah yang diyakini dan ibadah yang dijalankan. Ketika seseorang telah memiliki keyakinan yang lurus sehingga ia memahami tujuan hidupnya dan telah menjalankan ibadahnya dengan benar sehingga ia mengerti bagaimana cara berterima kasih kepada Rabb nya, maka akan terbentuklah suatu akhlak yang mulia atau budi pekerti yang luhur. Akhlaq yang kokoh tidak mudah goyah oleh sebuah rayuan. Akhlaq yang mulia adalah berdiri di tengah yang terus berpihak kepada kebenaran yang telah dicontohkan oleh Rasulullah dalam menjalani hari – harinya yang dikagumi oleh kawan maupun lawan. “Dan sesungguhnya kamu wahai Muhammad benar - benar memiliki akhlaq yang agung” (QS. Al-Qalam : 68)
Keempat, Memiliki jasmani yang kuat. Jasmani yang kuat bukan hanya ditentukan oleh besarnya ukuran tubuh semata, akan tetapi yang mampu istiqamah untuk menjalankan rutinitas penghambaan dirinya dengan baik, dan mampu menopang tugas-tugas yang dibebankan kepadanya dalam rangka menyampaikan ayat – ayat Allah, “Mukmin yang kuat lebih aku cintai daripada mukmin yang lemah” (HR. Muslim)
Kelima, Intelek dalam berfikir. Ini adalah ciri khas orang yang telah mempergunakan akalnya dengan benar sehingga ia mampu melakukan sesuatu yang benar berdasarkan ilmu yang benar, mampu membedakan bagian mana yang benar menurut Allah dan Rasul-Nya yang kemudian harus dijalankan dan bagian mana yang dilarang sehingga ia rela untuk meninggalkannya. “Katakanlah : samakah orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu, sesungguhnya hanya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran” (QS. Az-Zumar : 39)
Keenam, Kuat melawan hawa nafsunya. Hawa nafsu adalah keinginan yang menggebu – gebu yang yang semua orang memilikinya. Seseorang dikatakan kuat melawan hawa nafsunya berarti ia bukan menghilangkan nafsunya akan tetapi ia mampu mengarahkan dan mengendalikan hawa nafsunya sesuai dengan tuntunan yang telah diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya. “Tidak beriman seseorang dari kamu, sehingga ia menjadikan hawa nafsunya tunduk kepada ajaran Islam yang aku bawa” (HR. Hakim)
Ketujuh, Sungguh – sungguh menjaga waktunya. Waktu adalah ibarat pedang, jika tidak dimanfaatkan dengan baik, maka waktu itu akan membunuh diri sendiri. Waktu itu juga tidak akan pernah tergantikan jika telah berlalu. Makanya seorang yang dikatakan menjaga waktu adalah yang cermat dan cerdas dalam mempergunakan waktunya. Tiada waktu yang terbuang kecuali ia habiskan untuk kepentingan agama Allah dan peningkatan kualitas keimanannya. “Manfaatkan lima perkara sebelum datang lima perkara; mudamu sebelum tua, sehatmu sebelum sakit, kayamu sebelum miskin, luangmu sebelum sempit, dah hidupmu sebelum mati” (HR. Hakim)
Kedelapan, Teratur dalam mengatasi masalahnya. Tidak seorang pun di muka bumi ini yang lepas dari jerat masalah apalagi yang berkaitan dengan permasalahan yang disulut oleh musuh – musuh Allah. Karena masalah adalah ujian bagi semua orang untuk menentukan kualitas dirinya dan keimanannya di hadapan Allah SWT. Disinilah diperlukan ketenangan dan tahapan-tahapan dalam menyelesaikan setiap permasalahan yang sedang dihadapi. Tidak dengan gegabah dan tidak juga terlalu perhitungan yang berbelit – belit. “Kebatilan yang teratur, dapat mengalahkan kebenaran yang teratur” (Ali bin Abi Thalib)
Kesembilan, Mampu berusaha sendiri. Inilah yang dimaknai dengan sikap mandiri, hidupnya tidak tergantung kepada orang lain. Sandaranya kuat, yakni Allah SWT, karena orang yang bergantung kepada orang lain tidak ada yang didapatkan kecuali kekecewaan. “Tidak ada penghasilan yang lebih baik bagi seorang laki-laki daripada bekerja sendiri dengan kedua tangannya” (HR. Ibnu Majah)
Kesepuluh, Bermanfaat bagi orang lain. Inilah muara dari kesembilan pribadi tersebut diatas. Inilah nilai yang paling tinggi bagi seorang muslim. Sehebat apapun ilmu dan wawasan seseorang akan tetapi tidak mampu memberikan manfaat bagi orang lain, maka akan kurang bernilai kehadirannya di tengah masyarakat. “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama manusia” (HR. al-Qudhaa’i)

Demikianlah sepuluh pribadi ini saling menopang satu dengan yang lainnya, yang telah terangkai dengan indahnya berdasarkan fase-fasenya untuk membentuk sebuah pribadi yang “shalihun linafsihi wa mushlihun lighairihi” yang sekiranya pantas mewarisi negeri ini, yakni yang menjadikan Allah sebagai ghayah (tujuan), Rasul sebagai qudwah (suri tauladan), al-Qur’an sebagai dustur (kitab pegangan), bersungguh-sungguh dijalan Allah sebagai jalan hidup, dan mati di jalan Allah adalah cita-cita tertingginya.
Negeri ini adalah milik Allah, ketika kita tindak sanggup dan dianggap oleh tidak cakap untuk mengurus dan mengelolanya dengan baik sehingga terjadi kerusakan di atasnya, niscaya Allah akan mengganti penggelolanya dengan orang-orang yang lebih baik dan tidak serupa dengan kita. Maka, bilamana itu terjadi, niscaya kita termasuk orang-orang yang merugi.

Marilah di waktu dan kesempatan yang mustajab ini, kita tundukkan hati, tengadahkan telapak tangan, mengakui segala kesalahan dan kealphaan, seraya bermohon agar kita mampu menjadi generasi atau menjadikan generasi yang akan datang sebagai generasi yang akan mewarisi negeri ini, sehingga bukan adzab yang datang melainkan kebaikan yang akan meliputi negeri. Wallahu taufiq wal hidayah.

0 Comments