KETIKA CINTA HARUS MEMILIH

Tags


Ketika Cinta Harus Memilih

Oleh : Abu Al-Hulya

“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat),bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).”(QS. Al-Baqarah : 165)
Cinta adalah sebuah bahasa yang unik untuk didefinisikan. Cinta adalah sebuah kata yang apabila terucap oleh lisan menjadikan orang lain tergetar jiwanya. Cinta juga bias berbentuk bahasa tubuh yang dapat dipahami tanpa harus diungkapkan dengan kata-kata. Para pakar bahasa memaknainya sebagai sebuah emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. Dalam konteks filosofi cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belaskasih dan kasih sayang. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi atau kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan bersedia melakukan apa pun yang diinginkan objek tersebut.
Mencintai atau dicintai merupakan fitrah manusia. Seorang Nabi Adam yang tinggal di surge dengan segala bentuk limpahan kebutuhan hidupnya, masih saja merasakan ada ruang yang kosong dalam jiwanya, sehingga Allah menciptakan Hawa dari tulang rusuknya untuk membina cinta dan kasih saying antara keduanya. Hatta, konon cerita setelah mereka berdua diusir dari surge dan ditempatkan di muka bumi dalam keadaan terpisah sehingga Allah mempertemukan kembali mereka berdua di sebuah bukit yang diabadikan dengan nama Jabal Rahmah (bukit kasih sayang) yang menjadi bagian dari kawasan Arofah (tempat wukuf para jamaah haji) untuk kemudian mengawali kehidupan sebagai pasangan suami istri yang selanjutnya memakmurkan bumi ini dengan cinta dan kasih saying sehingga melahirkan keturunan yang terus berkembang biak sehingga saat ini.
Cinta telah menjadi lambing atau symbol akan makna sebuah pengorbanan. Seorang ibu atau istri rela mengorbankan seluruh jiwa raganya untuk membesarkan anak-anaknya. Siang harinya dihabiskan untuk bekerja keras membanting tulang untuk membantu sang suami mencari nafkah, malam harinya dihabiskan untuk bermunajat kepada Allah agar anak-anaknya menjadi manusia yang bermanfaat bagimasyarakat Negara dan agamanya. Seorang suami rela bekerja keras siang malam demi cintanya kepada istri dan anak-anaknya. Seorang pemimpin rela mengurangi jatah makan dan tidurnya sebagai bukti begitu cintanya kepadara kyatnya. Seorang anak relam engorbankan waktu dan tenaganya demi merawat orangtuanya yang telah jompo sehingga mengurangi jatah waktu untuk keluarganya. Seorang guru dengan telaten dan tekun mengajari murid-muridnya dengan penuh cinta sehingga mampu menggapai cita-cita mereka. Seorang dokter begitu mencintai profesinya sehingga mencurahkan segala perhatiannya untuk memberikan pertolongan kepada sesama.
Cinta merupakan fitrah atau naluri yang tumbuh dalam diri manusia secara alami.Ia adalah karunia Allah yang istimewa bagi manusia, karena dunia ini akan terasa hampa tanpa kehadirannya. Maka dari itu, seharusnya cinta diarahkan kepada tempat dan cara yang benar, sehingga cinta tersebut akan bersemi dengan indah dan mendatangkan pahala kepada yang memilikinya. Sebaliknya, ketika cinta tidak dibarengi dengan iman dan taqwa kepada AllahTa’ala, maka yang berbicara bukan lagi cinta akan tetapi nafsu angkara yang akan menyesatkan para pemiliknya.
Sesuai dengan keberadaannya, cinta adalah sebuah rasa tanpa wujud akan tetapi mampu dirasakan kehadirannya. Ia hadir dalam kehidupan nyata, Nampak dengan keindahan tutur kata sehingga orang lain mudah memahaminya. Akan tetapi kehadirannya seringkali membuat orang lain bertanya-tanya, karena yang terlihat hanyalah polah tingkah yang mengisyaratkannya sehingga orang lain terkadang tidak mampu menangkap keberadaannya.
Berbicara tentang cinta, maka akan kehabisan tinta untuk menuliskannya. Telah banyak cerita yang menggambarkan keberadaannya yang menjadikan dunia ini semakin berwarna. Ada yang berakhir dengan senyum bahagia ada juga yang berakhir dengan tangis duka lara, bahkan ada juga yang sampai menumpahkan darah dan merelakan nyawa karenanya. Maka, kita harus bias menyikapi cinta dengan benar dan bijaksana. Tidak mudah mengumbar cinta, tidak juga memendamnya terlalu dalam sehingga enggan mengekspresikannya. Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda, “Cintailah kekasihmu sewajarnya saja karena bias saja suatu saat nanti ia akan menjadi orang yang kamu benci. Bencilah sewajarnya karena bias saja suatu saat nanti ia akan menjadi kekasihmu. (HR. Al-Tirmidzi).
Demikianlah, cinta telah menjadi fenomena tersendiri dalam kehidupan manusia. Tidak seorang pun yang luput darinya, karena Allah telah menumbuhkannya dalam setiap dada mereka, sebagaimana firman-Nya, "Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (Surga)”.(QS. Ali Imron : 14).
Dengan sangat jelas Allah melalui ayat tersebut diatas memberikan gambaran kepada kita bahwa cinta merupakan kesenangan dunia sehingga hal-hal tersebut yang menjadikan kita dekat kepada Allah Ta’ala; mudah dalam menunaikan ketaatan kepada-Nya dan mampu berjihad di jalan-Nya. Namun, terkadang justru kecintaan kepada dunia tersebut melalaikan amanah dan tugas utama kita di dunia, ha lini sebagaimana firman Allah, “Katakanlah jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramua, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari pada Allah dan rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberkan keputusan-Nya, dan Allah tidak member petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”(QS. At-Taubah:24).
Berdasarkan ayat diatas memberikan gambaran bahwa ternyata cinta itu memiliki level dan tingkatan berdasarkan kualitas keimanan seseorang. Bagi orang-orang yang beriman, mereka sangatlah mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi cintanya kepada dunia, apapun yang dimilikinya ketika Allah dan Rasul-Nya ingin mengambilnya maka dengan ikhlas dan penuh keridhaan dia memberikannya. Sebaliknya, ada sebagian orang yang mencintai dunia melebihi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka itu adalah orang-orang yang fasik, yang berpaling dari Allah ketika dating seruan untuk berjihad di jalan-Nya.
Cinta adalah sebuah pilihan. Untuk siapa cinta yang bersemayam di dalam dada. Untuk mengejar keridhaan-Nya yang berbuah pahala atau sekedar untuk memenuhi hasrat dunia semata yang bilamana dikejarakan semakin haus karenanya.

Ya Allah, berilah aku rezeki cinta Mu dan cinta orang yang bermanfaat buatku cintanya di sisiMu. Ya Allah segala yang Engkau rezekikan untukku di antara yang aku cintai, jadikanlah itu sebagai kekuatanku untuk mendapatkan yang Engkau cintai. Ya Allah, apa yang Engkau singkirkan di antara sesuatu yang aku cintai, jadikan itu kebebasan untukku dalam segala hal yang Engkau cintai”. (HR. Al-Tirmidzi). Wallahua’lam bishshawab.