STOP IKHTILATH

Tags

STOP IKHTILATH

Oleh : Busro lilmu'minin


Bismillah…
Akhir akhir ini saya sering menjumpai hal hal aneh yang sedikit mengusik pikiran saya, menabrak imajinasi saya, mencolek hati sanubari saya hingga membuat saya geli ketika mengingatnya. Saya terpikir untuk menumpahkan masalah ini oleh sebab kegelisahan saya akan hal ini, jika seandainya terus menerus terjadi tanpa introspeksi dan evaluasi yang mendalam. Masalah yang dimaksud disini adalah masalah ikhtilat antara laki-laki dan perempuan, apakah itu di lingkungan masyarakat, atau di kampus, via facebook ataupun WhatsApp. Sungguh,  masalah ini membuat saya berkeinginan untuk menulis tentang ini, rasanya geli, gregetan jemari saya, gatel untuk ditahan, karena hasrat itu indahnya disalurkan pada tempatnya, sehingga berpahala bagi saya. Dan saya berdo’a semoga ini tempat yang  tepat untuk saya salurkan uneg uneg saya sehingga bermamfaat bagi orang yang membaca dan berpahala bagi yang menulis, karena “ fa inna adzikro tanfa’ul mu’minin”.
Pertama , mari kita kenali dahulu apa makna ikhtilat dalam pandangan Islam?
Ikhtilat artinya adalah bertemunya laki laki dan perempuan yang bukan mahromnya di suatu tempat secara campur baur antara laki laki dan perempuan dan terjadi interaksi antara mereka, contoh: berbicara, bersentuhan, berdesakan dan seterusnya.
Ok … cukup kita pahami itu terlebih dahulu, mari kita langsung masuk ke intinya. Berbicara ikhtilat berarti berbicara tentang keberagamannya, berbicara ikhtilat juga berbicara tentang pergaulan antara kaum adam dan hawa. Walaupun masalah ini sudah dibahas dari kapan tau, tapi emang dasar manusia suka lupa diri, butuh diingatkan terus menerus, karena dalam fitrahnya manusia emang dho’if, makannya suka khilaf dalam berkelakuan.  Nah,  kembali kepada ikhtilat dan bagaimana cara bergaulnya sudah ditentukan dan digarikan oleh syariat, apakah itu yang berkaitan dengan apa yang dimaksud engan ikhtilat, bentuk bentuk ikhtilat, dalam masalah apa dibolehkan berikhtilat dan adab adab yang berkaitan dengan pergaulan anatara laki laki dan perempuan. Semuanya lengkap, sudah diterangkan oleh ulama ulama kita secara gamblang, kulliyah, bittafsil dari nushus  Al Qur’an dan Assunnah, bahwa hukum asli dari ikhtilat adalah haram. Kecuali dalam beberapa hal yang bersifat daruroh, seperti keluar rumah untuk kerja,mengajar, solat berjama’ah di masjid, atau solat ‘ied, menuntut ilmu, dan kesemua itupun tidak boleh keluat dari ithor atau karidor yang telah ditetapkan oleh syari’at.
Contoh: solat berjama’ah bagi seorang wanita di masjid, ulama berkata  sebaiknya wanita solat di rumah ketimbang di masjid, ataupun kalau mau solat di masjid harus dengan suaminya, dll. Dulu pada zaman Rasulullah perempuan biasa aja menghadiri solat berjama’ah, mereka sholat dibelakang para sahabat, dengan jarak yang sudah ditentukan sehingga tidak bercampur. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah bersabda: “ sebaik baik shaf bagi laki laki adalah awalnya dan seburuk buruk nya adalah akhirnya, dan sebaik baik shaf bagi wanita adalah akhirnya dan seburuk buruknya dalah awalnya”. Dan Rasulullah tidak mengijinkan satupun sahabatnya untuk berdiri kecuali perempuan sudah keluar lebih dahulu. Untuk apa? Tentu saja untuk menghindari campur baur antara laki laki dan perempuan, ya itulah yang dinamakan dngan ikhtilath.
Dalah menuntut ilmu juga seperti itu, agama tidak pernah melarang perempuan menuntuk ilmu, sejak zaman Rasulullah saw perempuan sudah biasa menghadiri majlis ilmu mendengarkan khutbah Rasulullah, gak ada yang ngelarang. Tapi yang perlu di inget, lagi lagi mesti ada adabnya, ada aturan aturan yang telah ditentukan agama ini untuk ummatnya. Layaknya sebuah jual beli, tidak terlepas dari sebuah syarat menyarat  yang mengikat, begitulah Allah menciptakan manusia, diberikan semuanya untuk manusia miliki, lakukan apa saja dengan apa yang Allah berikan, tapi dengan syarat itu semua sebgai sarana beribadah kepada Allah, “ almuslim fii syuruutihim”, maka siapa saja yang menyelisihi, maka menyelisihi perjanjiannya bersama Allah. Pada zaman Rasulullah para shahabiyat belajar bersama Rasulullah saw tentang ‘ulumuddin, tidak mau kalah dengan para sahabat, bahkan Rasulullah harus mendatangi mereka karena tempat yang terpisah jauh dengan tetap berhijab. Jauh jarak bukan untuk menjauhkan ilmu, tapi karena prinsip yang di ajarkan Islam yang di bawa Rasulullah saw seperti itu, menjaga agar jauh dari ikhtilat, bukan ilmu. Contoh lain lagi dalam kehidupan social tentang bermuamalah dengan lawan jenis, bagaimana menjalaninya dan menyikapinya.
Dahulu sebagian shahabiyyat mreka mengikuti perang bersama Rasulullah, mereka menyentuh para sahabat yang terluka dan mengobati mereka, dan sah sah saja karena itu berada dalam hal yang genting,mereka perlu bantuan dan pengobatan, itu hal yang doruroh. Tapi sekarang laki laki dan perempuan sudah berbeda, berdeda zaman, beda perilaku, kalau tidak berkumpul bareng antara laki laki dan perempuan maka tidak asik, kalau belom senggol senggolan belom puas. Itu setidaknya gambaran umum masyarakat saat ini, yang awwam akan agama, ilmu dan studi Islam. Tapi sangat disayangkan ketika mendapati teman teman kita yang terjun dalam ladang dakwah, menekuni kajian Islam dan mendalaminya dalam bingkai dakwah mengabaikan hal hal yang berbau ikhtilath, membiasakannya dan memeliharanya.
Mari kita belajar kepada Rasulullah, Rasulullah saw adalah contoh terbaik dalam segala hal, mari kita buka lembaran lembaran sejarah beliau, rasulullah tidak pernah berikhtilat dengan perempuan kecuali dan hal daruroh yang sudah di sebutkan di atas, dalam membai’at misalnya, Rasulullah bersama perempuan membai’at mereka, dan itupun Rasulullah tidak pernah menyentuh tangan mereka untuk bersalaman, hanya dengan ucapan. Bahkan pernah suatu saat Rasulullah melihat para sahabiyat berjalan di tengah jalan, kemudian Rasulullah menegur mereka untuk pergi kepinggir jalan sampai baju mereka sobek berdesakan dengan tembok akibat takut berikhtilat dengan para sahabat pada saat itu dan taatnya akan perintah. Maka lagi lagi mari kita berbicara tentang adab, ini penting, prinsip, modal kita untuk menjadi seperti yang di inginkan dan diperintahkan oleh Rasulullah. Berbicara Rasulullah tidak akan pernah habis, teladan sepanjang zaman. Perkataan, perbuatannya adalah mozaik yang dulu se
mpat tercecer, dapi sekarang, semuanya tinggal kita baca, semuanya sudah tersedia di mana mana, kita tinggal beli dan kita baca dimeja, luangkan waktu kita 30 menit  atau 1 jam aja dalam sehari. Kata ulama “ ilmu itu tidak di ketahui akibat manusia yang tidak mau mengetahuinya dan akan di ketahui oleh orang yang mau mempelajarinya”.
Saya menukil sedikit dari fatwa Asy syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz berkaitan dengan masalah ikhtilat antara laki laki dan perempuan, beliau berkata:” duduknya mahasiswa dan mahasiswi secara bersamaan di dalam kelas adalah termasuk sebab terbesar tenjadinya fitnah “. Mari kita sejenak merenungi perkataan beliau, benar atau tidak? Bisa kita buktikan itu adalah benar seratus persen, alal ithlaq. Berbiacara ia, bersenggolan ia, bersentuhan pun ia, lengkaplah sudah,kuran apalagi. Misalkan ada laki ataupun perempuan yang nyeletuk, kan kita berkumpul bukan dalam kelas mas? Jawabnya, ya sama aja kali, mau di kelas ke, di luar kelas, di taman ke, di pojokan ke ( weewwww… ini mah sudah lari ke masalah khalwat dan zina kali mas… hehe ) tetap aja namanya ikhtilat. Trus dia bilang lagi, kita ada jarak kok gak bersentuhan mas? Di jawab dengan pertanyaan oleh masnya, tapi kalian saling bicara dan bercanda gak? Iya, masss… ettt deh, itu juga sama aja ikhtilat namanya. Ada banyak dalih yang dilontarkan oleh pelaku, dan beragam, biasanya gak mau di salahkan. Akibatnya? Gawat, karena kalau hal seperti ini di biasakan dan akan lebih gawat lagi kalau sudah dianggap biasa, lari larinya salin ngobrol akan dianggap biasa, seperti tidak ada masalah, merasa tidak berdosa, seperti tidak ada yang membatasi, padahal agama ini mengatur sedemikan rupa perihal kehidupan manusia. Perlu di inget juga, sekalipun kita dalam hal ini tidak berbicara, tidak bersentuhan, tapi inget ama mata ikhwah wa akhwati fillah… mata itu sulit di tebak, lebih berbahaya kadang kadang. Dari mata turun ke hati, dari hati, turun ke maksiat, sulit di cegah kecuali yang hatinya sudah ada “ alhashoonah”  anti virusnya.
Terakhir yang ingin saya bahas adalah ikhtilat berkedok, biasanya via via-an, via facebook, group whatsapp, BBM dan masih banyak lagi yang lainnya. Tadi di atas saya bahas yang dzohir dzohir aja yang sudah tidak menjadi rahasia umum. Nah, sekarang temanya sesuatu yang bathiniyah ( ini bukan kelompok bathiniyyah yangada pada zamannya imam Muhammad Al Ghozali ya ), gerak geriknya tidak diketahui kecuali dia dengan si dia dan Allah aja yang tahu. Dalam hal ini mari kita kembali kepada pengertian ikhtilat di atas untuk mengetahui hukumnya, bahwa ikhtilat adalah bercampurnya atau berbaurnya laki laki dan perempuan dalam satu tempat dan terjadi interaksi antara mereka dengan berbicara, bersentuhan dll. Di dalam facebook ataupun whatsapp atau group memang antara laki laki dan perempuan tidak saling bertemu antara satu dengan yang lainnya secara dzhohir, tetapi tetap mereka bisa di katakan berikhtilat, sebab mereka berada dalam satu group misalkan, mereka saling membaur, bercampur anggotanya antara laki laki dan perempuan, apalagi saling ngobrol hal hal yang sifatnya bukan doruriyyah, seingga kita tidak sadar telah terjebak dalam hal ikhtilat ini, walaupun segudang alasan di kemukakan, berjuta sangkalan di ajukan, ikhtilat tetaplah ikhtilat ,yang larinya adalah kepada dosa dan kerusakan hati.
 Ada yang bilang ini untuk keperluan dakwahlah katanya, untuk shering ilmu, tapi apakah harus seperti itu caranya. Apakah dengan di pisah dakwah tidak bisa di alirka, apakah dakwah akan terputus, atau kita terus mempertahankannya karena sudah terjebak virus ikhtilat, terlanjur sayang dengan ikhtilat senhingga sulit di lepaskan, atau mungkin inilah ikhtilat yang berkedok islami itu. Trus ada yang membuat group whatsapp untuk koordinasi katanya, tapi kok masalah pribadi di bawa bawa ke group? Saya tidak ingin menyalahkan wanita atau lelaki, tapi cukuplah bagi seorang wanita sadar akan dirinya, potensi dirinya ketika tidak bisa menjaga peringai dan perilakunya, sebab wanita bisa menjadi fitnahyang berbahaya seperti kata Rasulullah dalam haditsnya. Dan cukuplah bagi lelaki mengetahui dirinya bahwa lelaki juga kadang bisa menjadi buaya dan mata keranjang.
Saya agak jengkel ketika mengetahui orang yang di tarbiyyah dengan tarbiyyah yang baik mengirim foto pribadi mereka dalam group, laki mengirim fotonya, perempuan mengirim foto mereka bersama sama… ya akhi wa yaa ukhti, maksudnya apa? Koordinasi macam apa namanya yang seperti ini, kenapa gak ta’arufan aja sekalian, kirim fotonya sekaligus biodatanya, terus nikah deh… itu lebih enak dan aman. Menurut saya ini adalah masalah yang besar, sekali lagi walaupun kita tidak saling bersentuhan, dengan saling berbicara dengan tampa faedahpun larinya kemana mana, dari mata nyangkut kemana mana, makannya Allah berfirman:” katakanlah kepada laki laki yang beriman , hendaklah mereka menahan pandangan mereka” dan katakana kepda perempuan yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangan mereka”. Sebab kalo gak bisa di tahan, tuh mata ngebawa kenama mana,  ada yang ngakut ke hati, jatuh menjadi kepikiran, kepincut, terjebak perasaan dan seterusnya, sampe sampe lari ke japri japri-an, nanya nama, nomor telepon, pin BBM, nama facebook, nanya kapan bisa ketemu orang tuanya kagak. Yang  pada akhirna sesuatu yang menjadi prioritas di abaikan atau terabaikan, hafal qur’an tidak konsen, murojaah dari ayat ayat Allah larinya ke ayat ayat cinta… hadeeeeh, rusaklah generasi kita, ingat KEJAHILIYAAN  JANGANLAH DIJADIAKN SEBAGAI KEBIASAAN. Semoga Allah memberikan hidayahnya kepada kita semuanya.

Terakhir, adalah sangat menyedihkan ketika mengetahui sebagian dari gerakan dakwah Islam di INDONESIA INI ternyata tidak memperhatikan masalah ini, sering di abaikan. Laki laki dan perempuan bercampur baur hampir di semua lini kehidupan, tanpa peduli lagi dengan ketentuan syari’ah. Wallau a’lam bissowab..?