Catatan JMQ dari Masjid Attawun Puncak Pass


Adzan subuh bertalun memecah keheningan pagi di kampung Qur'an Alhayah.  Suara air gemericik mulai terdengar di setiap sudut kamar menandai seluruh penghuni tengah bersiap menunaikan sholat subuh berjamaah.  Seperti biasanya, usai sholat kegiatan dilanjutkan dengan membaca wirid pagi dan setoran hafalan alQur'an. Namun ada sedikit pemandangan yang berbeda dengan pagi ini bagi para santri putri, selepas menunaikan sholat subuh mereka bergegas kembali ke asrama untuk mempersiapkan diri mengikuti acara Jaulah Ma'al Quran di Masjid Attawun di kawasan Puncak Bogor yang merupakan daerah wisata pegunungan yang termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Bogor dan Kabupaten Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat. Puncak terletak 70 km sebelah selatan Jakarta. Wilayah Puncak terletak di kaki dan lereng pegunungan Gede-Pangrango dan sebagian besar merupakan bagian dari kawasan Taman Nasional Gede Pangrango. Daerah ini terkenal sebagai daerah wisata pegunungan baik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Wilayah Puncak dikenal sebagai tempat peristirahatan penduduk Ibukota karena kesejukan dan keindahan alamnya, serta merupakan daerah perkebunan teh yang dibangun pemerintah kolonial Belanda yang saat ini merupakan perkebunan teh milik PT Perkebunan Nusantara VIII Gunung Mas.
Wilayah Puncak berada di kaki dan lereng pegunungan Gede-Pangrango dan berada pada ketinggian rata-rata 700-1.800 m di atas permukaan laut dengan suhu udaranya yang rata-rata mencapai 14-18 derajat Celcius. Selain itu, daerah Puncak juga dikelilingi oleh gunung lain, yaitu Gunung Salak (2.221 m).
Pada acara JMQ kali ini sekaligus sebagai momen safari al-Qur’an bagi santri putri PTDQ ALHAYAH Jakarta baik yang bermukim di kampung Qur'an Ciliwung maupun Rumah alQur'an Alhayah Pulo Gebang.  Kegiatan safari al-Qur’an merupakan media yang diprogramkan oleh lembaga dalam setiap semester yang bertujuan untuk memberikan suasana baru bagi penghafal alQur'an untuk menghilangkan kebosanan yang acap kali menghantui dan menjadi momok paling menakutkan. 
Dengan mengendarai mobil L300, kendaraan yayasan yang telah menjadi saksi perjalanan sejarah alhayah dan telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari suka duka perjalanan para pelaku sejarahnya. Para santri sering menjulukinya si putih atau kendaraan perang. Dengan penuh muatan yang tidak sewajarnya menembus keramaian jalanan Ibukota menuju terminal kampung rambutan yang berjarak kurang lebih 10 km dengan menempuh perjalanan sekitar 31 menit dari kampung alQuran Alhayah Ciliwung. Setelah dua kali bolak balik untuk mengantar peserta SQM yang berjumlah 30 orang, si putih dikembalikan ke kandang nya untuk beristirahat mengingat faktor usia dan kondisi untuk menyertai peserta sampai ke tujuan mereka. 
Setelah seluruh peserta berkumpul di meeting point pertama,  yaitu di Terminal Kampung Rambutan, mereka melanjutkan perjalanan dengan menggunakan 2 unit mobil dan 1 bis Marita jurusan Kampung Rambutan -  Cianjur, yang mana trayek nya melalui Masjid attawun di kawasan Puncak Bogor. Sepanjang perjalanan peserta dihibur dengan lagu -  lagu Priangan yang mendayu dayu sangat cocok pemandangan alam  yang terhampar begitu sedap di pandang mata.  Inilah wilayah puncak bogor yang setiap akhir pekan menjadi tujuan utama warga ibu kota untuk melepaskan kepenatan dari berbagai kesibukan duniawi mereka. Meski agak mengalami keterlambatan karena pada kesempatan ini berbarengan dengan waktu liburan, mobil berhenti tepat di seberang masjid attawun merupakan salah ikon kebanggaan masyarakat Bogor ini sebenarnya telah ada sejak puluhan tahun yang lalu. Berawal dari kebutuhan sarana ibadah untuk para tenaga kerja Perkebunan Teh milik PT. Gunung Mas yang dikelola PTPN Nusantara VIII, dibangunlah sebuah masjid kecil dan sederhana di lokasi yang dipandang strategis. Tepatnya di pinggir Jalan Raya Puncak, sekitar km 88,5 dari Ibukota Jakarta di Blok/Kampung Naringgul Desa Tugu Selatan Kecamatan Cisarua Kabupaten Bogor.
Masjid yang didirikan di wilayah  Perkebunan Teh peninggalan penjajah Belanda ini awal nya dinamakan  Masjid Al-Muttaqien milik PT. GUNUNG MAS dan Pengelolaannya dilakukan secara swadaya oleh para sesepuh tenaga kerja Perkebunan Teh yang berdomisili dekat dengan lokasi Masjid Al-Muttaqien. 
Pada dasawarsa tahun 1990-an, Masjid Al-Muttaqien yang mungil itu ternyata semakin banyak dikunjungi jamaah, baik untuk kegiatan shalat fardhu maupun shalat jum’at. Jamaah masjid yang semakin bertambah bukan hanya dari jamaah yang berasal dari masyarakat sekitar, tetapi juga para jamaah luar kota yang melewati Jalan Raya Puncak yang menjadi poros transportasi Bandung, Cianjur, Bogor, dan Jakarta.
Para jamaah, terlebih ketika mendirikan shalat jum’at, terpaksa berdesak-desakan melaksanakan ibadah karena tidak lagi bisa tertampung oleh kapasitas masjid yang sangat terbatas. H.R. Nuriana, Gubernur Jawa Barat dua periode (1993-1998 dan 1998-2003), yang dikenal sebagai sosok pribadi yang selalu mendengar jerit keprihatinan umat ini akhirnya tergerak hati untuk membangun sebuah Monumen Kebersamaan (Gotong Royong Plus) dalam bentuk masjid yang lebih layak dan refresentatif.
Ketergugahan figur jenderal bintang dua yang berjiwa santri dan tokoh teladan yang sarat dengan gagasan pembangunan Islam ini, berawal dari keinginan beliau untuk mengabadikan gagasan rereongan sarupi yang sukses dikelola saat itu di Jawa Barat dalam bentuk monumen kebersamaan dan gotongroyong yang tidak hanya merupakan nilai luhur islami tetapi juga sekaligus merupakan nilai kepribadian warisan leluhur bangsa Indonesia yang telah terkristalisasi dalam falsafah dan dasar Negara R.I.  yaitu Pancasila dan UUD 1945.
Gagasan dan alur pikir H. R. Nuriana yang kebetulan sering menempuh perjalanan lewat jalur puncak tertarik melihat posisi strategis dan keindahan alam sekitar puncak, semakin memperkokoh keinginan kuat untuk membangun monumen Rereongan Sarupi dikawasan tersebut  yang sekarang ini dikenal dengan Masjid At-Ta’awun.
Sesampainya di lokasi,  para peserta diterima oleh pihak DKM Masjid Attawun dengan baik dan langsung diberikan tempat di aula sebagai tempat dilaksanakan program Safari AlQuran.  Tempat yang begitu representatif untuk kegiatan bersama dalam jumlah yang lumayan besar. Aula tersebut terletak di lantai dua masjid Attawun sejajar dengan lantai sholat untuk jamaah wanita. Para peserta segera meletakkan barang barang bawaan mereka untuk kemudian melakukan makan siang yang telah dipersiapkan oleh ibu dapur, bu narti dan bu iyah sebelum meninggalkan kampung alQuran. 
Usai makan siang, dan menunaikan shalat dhuhur dan ashar dengan cara di jamak Qashar peserta melakukan kegiatan setoran hafalan dan tilawah alQur'an sampai menjelang maghrib. Sambil menunggu kedatangan Kafilah JMQ,  Dr.  KH Ali Akhmadi, H.  Joko Setiono,  S. Pd., dan Hj Nurfitriah, para peserta berkeliling sekitar wilayah masjid Attawun yang begitu menawan di kala sunset menjelang. Mata disuguhkan kemerlip lampu-lampu yang terhampar luas nun jauh dibawah sana. Seakan akan kunang kunang yang beterbangan kesana kemari.  Suasana yang begitu mendamaikan hati dan menentramkan perasaan. Sehingga waktu menjelang Isya rombongan Kafilah JMQ tiba di masjid Attawun yang telah dipenuhi oleh kendaraan. Namun tanpa diduga mobil Kafilah JMQ diberikan tempat parkir tepat di depan pintu masuk masjid Attawun, yang tentunya memudahkan rombongan menuju tempat acara. Sambil menunggu waktu yang telah dijadwalkan rombongan Kafilah JMQ melakukan santap malam,  secara kebetulan di tempat tersebut ternyata juga dipesan kan untuk keperluan makan pagi para peserta. Meski dengan menu yang makanan khas sunda yang cukup sederhana, nasi putih, ikan mas goreng, sayur daun pepaya dan pepes teri dengan tidak lupa lalapan dedaunan muda begitu nikmat di lidah,  mungkin karena lapar atau memang kondisi nya yang mendukung. 




Sehabis makan malam Kafilah JMQ menunaikan sholat magrib dan Isya dengan cara dijamak Qashar, Kafilah JMQ menuju aula tempat acara akan dilangsungkan. Acara di mulai dengan pembukaan yang berkenaan dengan penyampaian visi dan misi acara JMQ oleh H.  Joko Setiono, dan kemudian dilanjutkan dengan Tasmi alQuran oleh Dr. KH. Ali Akhmadi, alhafizh dengan mentasmi kan surat  Ghafir s/d Surat alJatsiah (2 juz). Para peserta nampak menyimak dengan seksama dan penuh antusiasme. Setelah itu acara dilanjutkan dengan kajian alQur'an dan motivasi bagi para penghafal alQur'an. Beliau berpesan agar setiap peserta memiliki impian tentang masa depan, karena impian hari ini adalah kenyataan esok hari. Kemudian acara diakhiri dengan sesi photo bersama sebagai dokumen bagi tim media JMQ. 
Setelah beristirahat beberapa jam, kemudian acara dilanjutkan dengan Qiyamul Lail secara sendiri sendiri dan sholat subuh berjamaah di ruang sholat masjid attawun. Acara kemudian berlanjut dengan acara Tausiyah Subuh yang disampaikan oleh Kafilah JMQ, H.  Joko Setiono,  SH. Pd., beliau mengingatkan untuk bersyukur atas segala nikmat yang telah dilimpahkan kepada para peserta karena telah diberikan kesempatan untuk menghafal dan memahami ayat ayat Allah dengan cara fokus kepada kegiatan tersebut. Acara berakhir pada pukul 05.45 kemudian dilanjutkan dengan acara makan pagi.  Sebuah jamuan makan pagi yang sederhana tapi berasa istimewa karena dilakukan bersama sama dengan penuh suasana kekeluargaan yang begitu harmonis. Suasana yang mungkin jarang sekali dilakukan di rumah ataupun di asrama tempat tinggal mereka.  Usai makan mereka diberikan kesempatan untuk melakukan kegiatan ma'rifatul maidan (mengenal lingkungan) seputar Masjid Attawun. Menyusuri sungai dan kebun teh yang begitu indah.  Suasana pagi yang sulit digambarkan keindahan nya.  Gelak tawa yang begitu lepas dari sanubari yang bersih dan bening. Tergambar begitu sedap di pandang mata. Para peserta yang tulus ikhlas berjuang untuk menghafalkan ayat ayat Allah yang telah jarang dilakukan oleh anak anak muda seusai mereka. Terbayang betapa cerahnya masa depan mereka kelak.  Sambil menunggu kedatangan bis yang menjemput,  mereka mengadakan acara penutupan di pelataran masjid Attawun dan photo bersama Kafilah JMQ.  
Sebelum mengakhiri tulisan ini Kafilah JMQ dan Yayasan Alhayah Hayatuna mengucapkan terimakasih kepada seluruh pihak yang telah turut serta mensukseskan acara ini wa bil khusus bagi :
1. Dr. KH Ali Akhmadi,  alhafizh, H. Joko Setiono,  S.Pd., Hj.  Nurfitriah dan Hj. Azizah, S.Pd yang telah menyertai para peserta, memberikan dorongan semangat dan motivasi kepada mereka. 
2. DKM MASJID ATTAWUN yang telah memberikan fasilitas sarana kegiatan JMQ 
3. Mas Wahyudi, Akh Sobron,  bu kartini, mbak Asih dan Ustadzah Roswaidah yang telah menyempatkan diri membersamai para peserta sejak dari Jakarta sehingga pulang kembali. 
4. Para peserta yang telah mengikuti setiap rangkaian JMQ dan SQM dengan penuh suka cita. Menyatu dalam cinta dan harmoni. Semoga pengalaman ini dapat menjadi bekal masa depan mereka kelak. Mengenal makna kebersamaan dalam keimanan, saling membantu "Attawun" dalam cinta dan ukhuwah, saling menghargai dalam harmoni, dan saling berpadu dalam menggapai tujuan "mutqin" 30 juz sehingga kelak akan menjadi kebanggaan bagi keluarga,  masyarakat dan negaranya.  Sukses menjadi istri yang mampu menjaga diri dan martabat keluarganya, menjadi ibu yang melahirkan pemimpin-pemimpin masyarakat yang mencintai dan dicintai rakyatnya.  Sukses safari AL-QUR’AN Muslimah PTDQ ALHAYAH 2016.
Akhirnya seluruh Tim Media JMQ memohon maaf jika ada hal hal yang kurang berkenan bagi semua pihak yang telah terlibat dalam kegiatan JMQ selama tahun 2016 ini.  Sampai bertemu kembali di catatan perjalanan Kafilah JMQ di tahun 2017 di kota-kota yang lain di Indonesia. 

Masjid Attawun, 27-28 /12/2016 

Tim Media JMQ