Catatan Perjalanan JMQ penghujung tahun di bumi Syekh Jangkung


Sore ini Kafilah JMQ akan menutup perjalanan sosialisasi alQur'an sepanjang tahun 2016 dengan melakukan perjalanan ke Bumi Syekh Jangkung,  Kayen Pati Jawa Tengah. Pada kesempatan ini, Kafilah JMQ diikuti oleh cukup banyak peserta yang turut menyertai nya. Trip pertama, dipimpin oleh H. Joko Setiono, S.Pd., berangkat bersama 10 orang peserta dengan menggunakan transportasi darat, sedangkan Trip kedua bersama Dr. KH Ali Akhmadi, alhafizh dan asisten beliau dengan menggunakan pesawat terbang, mengingat amanah dan tanggung jawab beliau yang harus diselesaikan terlebih dahulu.
Trip  pertama,  berangkat menuju terminal rawamangun yang berjarak kurang lebih 13 km dengan jamaah tempuh sekitar 25 menit dari lamping alQuran Ciliwung bila ditempuh dengan kondisi lalu lintas normal menggunakan kendaraan operasional yayasan Alhayah Hayatuna. Setelah sampai di Terminal Rawamangun, perwakilan JMQ, Hj.  Nurfitriah mengambil tiket bis yang telah dipesan satu hari sebelum nya.  Setelah tiket didapatkan, rombongan Kafilah JMQ diarahkan untuk naik bis transjakarta menuju terminal bus terpadu Pulo Gebang yang berjarak kurang lebih 8 km dengan waktu tempuh sekitar 20 menit dalam waktu normal. Bis berangkat memecah keramaian kota yang telah menuju puncak kemacetan, maklum saat ini adalah jam pulang kerja, namun karena memiliki jalur tersendiri, bis bisa melaju dengan cepat sehingga sampai di tempat tujuan sesuai dengan jadwal keberangkatan bis. Sesampainya di Terminal bus, Kafilah JMQ menuju tempat keberadaan bis yang dimaksudkan, namun ternyata bis masih belum datang.  Setelah sekitar 2 jam menunggu,  akhirnya bis pun datang, Kafilah JMQ segera menempati bangku bangku sebagaimana tertera di tiket. Kali ini bis yang akan mengantarkan Kafilah JMQ adalah bis Haryanto yang cukup mewah dengan tempat duduk yang cukup nyaman. Inilah mungkin satu satunya perusahaan bis yang mengharuskan pengemudi nya berhenti setiap shalat subuh tiba, untuk memberikan kesempatan kepada para kru dan penumpang menunaikan kewajibannya selaku seorang muslim.
Inilah perjalanan JMQ terjauh dan terlama dengan menggunakan transportasi darat dengan jarak sekitar 527 km dengan waktu tempuh sekitar 10 jam dalam kondisi lalu lintas normal. Mengingat perjalanan ini dilakukan pada malam hari, maka kesempatan ini dimanfaatkan untuk beristirahat dan mengumpulkan energi untuk kegiatan esok hari. Tanpa terasa bis melaju dengan cukup kencang menyusuri jalanan bebas hambatan sehingga waktu subuh pun tiba dan bis pun berhenti tepat disebuah masjid.  Di luar dugaan ternyata masjid tersebut merupakan petilasan dari Syekh Jumadil Qubro atau yang dikenal sebagai Syeikh Jamaluddin al-Husain al-Akbar yang sudah dipugar dan diresmikan oleh Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi pada 22 Agustus 2014, sehingga tampak lebih mentereng. Ini berbeda dari kondisi sebelumnya saat petilasan itu ditemukan oleh penduduk setempat bernama Muhammad Fadloli. Tepatnya Masjid ini terletak jalan Yos Sudarso No. 1 Kelurahan Terboyo Kulon, Kecamatan GenukSemarang. Awalnya tempat ini merupakan tempat beristirahat Syekh Jumadil Kubro yang ditandai adanya Pohon randu didalam kompleks tersebut yang telah ber umur ratusan tahun. Setelah menunaikan sholat subuh berjamaah, Kafilah JMQ berkesempatan untuk berziarah ke petilasan Syekh Jumadil Kubro sambil mengenang kembali jasanya sebagai seorang  tokoh kunci proses Islamisasi tanah Jawa yang hidup sebelum walisongo. Seorang penyebar Islam pertama yang mampu menembus dinding kebesaran Kerajaan Majapahit. Beliau adalah cucu ke-17 Rasulullah Muhammad SAW dari garis putri beliau, Fatimah Az Zahra.
Syeikh Jumadil Kubro merupakan ulama yang lahir di negeri Campa. Ayahnya bernama Syeikh Jamaluddin,  seorang ulama yang mampu menyelesaikan pertikaian Raja Campa dengan rakyatnya. Sehingga, Syeikh Jalal diangkat sebagai raja dan penguasa yang memimpin Negara Campa. Syeikh Jamaluddin tumbuh dan berkembang di bawah asuhan ayahnya sendiri. Setelah dewasa, beliau mengembara ke negeri neneknya di Hadramaut. Di sana beliau belajar dan mendalami beragam ilmu dari beberapa ulama yang terkenal di zamannya. Bahkan keilmuan yang beliau pelajari meliputi Ilmu Syari?ah dan Tasawwuf, di samping ilmu-ilmu yang lain. Selanjutnya, beliau melanjutkan pengembaraannya dalam rangka mencari ilmu dan terus beribadah ke Mekkah dan Madinah. Tujuannya adalah mendalami beragam keilmuan, terutama ilmu Islam yang sangat variatif. Setelah sekian lama belajar dari berbagai ulama terkemuka, kemudian beliau pergi menuju Gujarat untuk berdakwah dengan jalur perdagangan. Melalui jaringan perdagangan itulah beliau bergumul dengan ulama lainnya yang juga menyebarkan Islam di Jawa. Kemudian beliau dakwah bersama para ulama? termasuk para putra-putri dan santrinya menuju tanah Jawa. Mereka menggunakan tiga kendaraan laut, sekaligus terbagi dalam tiga kelompok dakwah. Kelompok pertama dipimpin Syeikh Jumadil Kubro memasuki tanah Jawa melalui Semarang dan singgah beberapa waktu di Demak. Selanjutnya perjalanan menuju Majapahit dan berdiam di sebuah desa kecil bernama Trowulan yang berada di dekat kerajaan Majapahit. Kemudian jamaah tersebut membangun sejumlah padepokan untuk mendidik dan mengajarkan beragam ilmu kepada siapa saja yang hendak mendalami ilmu keislaman. Kelompok kedua, terdapat cucunya yang bernama al-Imam Ja?far Ibrahim Ibn Barkat Zainal Abidin dibantu saudaranya yakni Malik Ibrahim menuju kota Gresik. Dan kelompok ketiga adalah jamaah yang dipimpin putranya yakni al-Imam al-Qutb Sayyid Ibrahim Asmoro Qondy menuju Tuban. Namanya masyhur dengan sebutan ?Pandhito Ratu? karena beliau memperoleh Ilmu Kasyf (transparansi dan keserba jelasan ilmu/ilmu yang sulit dipahami orang awam, beliau diberi kelebihan memahaminya). Perjalanan dakwah Syeikh Jumadil Kubro berakhir di Trowulan, Mojokerto. Beliau wafat tahun 1376 M, 15 Muharram 797 H. diperkirakan hidup di antara dua Raja Majapahit (awal Raja Tribhuwana Wijaya Tunggadewi dan pertengahan Prabu Hayam Wuruk). Bermula dari usul yang diajukan Syeikh Jumadil Kubro kepada penguasa Islam di Turki (Sultan Muhammad I) untuk menyebarkan Agama Islam si wilayah Kerajaan Majapahit. Pada saat itu wilayah Majapahit sangat kuat pengaruh Agama Hindu di samping keyakinan masyarakat pada arwah leluhur dan benda-benda suci. Keberadaannya di tanah Majapahit hingga ajal menjelang menunjukkan perjuangan Sayyid Jumadil Kubro untuk menegakkan Agama Islam melawan penguasa Majapahit sangatlah besar. Karena pengaruh beliau dalam memberikan pencerahan bekehidupan yang berperadaban, Syeikh Jumadil Kubro dikenal dekat dengan pejabat Kerajaan Majapahit. Cara dakwah yang pelan tapi pasti, menjadikan beliau amat disegani. Tak heran, bila pemakaman beliau berada di antara beberapa pejabat kerajaan di antaranya adalah makam Tumenggung Satim Singgo Moyo, Kenconowungu, Anjasmoro, Sunana Ngudung (ayah Sunan Kudus), dan beberapa patih dan senopati yang dimakamkan bersamanya.
Setelah mengenang sejenak kemuliaan Syeikh Jumadil Kubro, Kafilah JMQ melanjutkan perjalanan nya kembali menuju bumi mina tani, yang masih cukup jauh kurang lebih 3 jam lagi.  Bis melaju cukup kencang,  mengingat jalanan yang masih lengang sehingga tepat pukul 06.45 WIB sampai di daerah pasar puri yang merupakan tempat pemberhentian bis yang akan melanjutkan perjalanan ke daerah Pati Selatan. Sambil menunggu mobil jemputan, Kafilah JMQ menyantap nasi Gandul yang merupakan makanan khas Daerah Pati. Konon menurut cerita, yang mempopulerkan nasi gandul ini adalah masyarakat desa Gajahmati (arah selatan teminal bus Pati. Desa Semampir/Sebelah timur dari desa gajahmati), itulah sebabnya sering ditemui kata-kata Nasi Gandul Gajah Mati. Pemberian nama Nasi Gandul memiliki cerita yang cukup lekat di kalangan masyarakat, salah satunya mengatakan bahwa nama tersebut pemberian dari pembeli. Dulu, di daerah Pati, penjual nasi gandul menjajakan nasinya dengan menggunakan pikulan yang berisi kuali (tempat kuah nasi gandul) di satu sisi, dan bakul nasi serta peralatan makan nasi gandul di sisi lain. Kemudian, pikulan tersebut digotong dan dijajakan sehingga pikulan tersebut naik-turun seirama dengan langkah penjualnya (kedua sisi bambu ini bergantungan bakul nasi dan kuali kuah secara menggantung (gandul). Oleh sebab itu, masyarakat kemudian menamainya nasi gandul.
Versi kedua, nama nasi gandul terinspirasi dari cara penyajian nasi gandul yang unik. Cara penyajiannya: piring yang telah dilapisi oleh daun pisang, kemudian diisi oleh nasi, baru setelah itu diberi kuah. Karena penyajian yang serupa itu, oleh para pembeli menyebut bahwa nasi dan kuah itu mengambang; menggantung (tidak menyentuh piring).
Versi ketiga mungkin dahulu hanya sebagai bahan banyolan masyarakat Pati. Dikisahkan bahwa penjual (seorang pria) yang menjajakan nasi tersebut dengan cara berkeliling, memakai sarung. Ketika penjual tersebut duduk dan melayani pembeli, sarung penjual tersebut tersingkap dan kelihatan alat kelaminnya yang ?gondal-gandul?. Kemudian, sejak saat itu orang menyebut nasi itu adalah nasi gandul. Dari versi-versi tersebut, versi pertama dan kedualah yang bisa diterima oleh masyarakat luas.
Cara penyajian nasi gandul ini tergolong unik, karena dalam penyajiannya piring dialasi dengan daun pisang. Makannya juga tidak menggunakan sendok, melainkan suru, yaitu daun pisang yang dipotong memanjang dan dilipat dua untuk digunakan sebagai penganti sendok. Namun biasanya para penjual nasi gandul tetap menyediakan sendok maupun garpu untuk persiapan apabila pembeli tidak dapat menggunakan suru.
Saat membeli nasi gandul biasanya hanya akan mendapatkan nasi putih ditambah kuah gandul dengan sedikit potongan daging sapi. Apabila lauk yang telah diberikan dianggap tidak cukup, pembeli dapat meminta tambahan lauk kepada penjual. Biasanya tambahan lauk yang tersedia pada nasi gandul adalah tempe goreng,  perkedel, telor bacem, jerohan sapi,  tambahan lauk ini  dipotong kecil-kecil sesuai dengan permintaan pembeli.
Santap pagi yang cukup nikmat di lidah dan cukup mengganjal perut di pagi hari, meski hasrat hati ingin menambah lagi, tapi kayaknya ditunda dilain waktu, karena jemputan telah datang menghampiri. Dengan menggunakan kendaraan microbus, Kafilah JMQ melanjutkan perjalanan menuju daerah Kayen yang berjarak kurang lebih 17 km ke arah selatan dari pusat kota pati dengan jarak tempuh sekitar 30 menit. Sepanjang perjalanan, ustad Badrudin yang merupakan pengurus lembaga tahfizh alhayah cabang bercerita tentang banyak hal, salah satunya beliau menuturkan bahwa tidak jauh dari asrama ada makam salah seorang wali Allah bernama Saridin atau yang lebih dikenal dengan sebutan Syeikh Jangkung.
Sesampainya di tempat tujuan, Kafilah JMQ disambut dengan hangat oleh keluarga besar PTDQ Alhayah Cabang Pati, yang juga merupakan keluarga besar pengasuh PTDQ ALHAYAH, Dr. KH Ali Akhmadi, alhafizh. Setelah beberapa saat beramal tamah, Kafilah JMQ bertemu dengan para santri untuk memulai rangkaian kegiatan JMQ. Diawali dengan tilawah alQur'an bil ghaib sebanyak 3 juz.  Kafilah JMQ dan para santri bergantian mentasmikan bacaan lembar demi lembar sehingga tidak terasa waktu Dhuhur tiba. Setelah menunaikan sholat Dzuhur berjamaah dan dilanjutkan dengan makan siang, Kafilah JMQ dan para santri meneruskan tilawah alQur'an sampai waktu ashar yang ditargetkan akan dapat menghantamkan alQur'an. Dengan penuh semangat para santri membaca alQur'an sehingga dapat menghantamkan tepat waktu dan ditutup dengan shalat Ashar berjamaah.
Sesuai rencana, Kafilah JMQ dan para santri melanjutkan program safari al-Qur?an ke makam Syeikh Jangkung yang terletak sekitar 2 km dari asrama. Dengan menggunakan 4 unit sepeda motor,  Kafilah JMQ bergerak menyusuri jalanan kampung yang indah dan bersahaja. Tanpa terasa kendaraan telah tiba di komplek pemakaman yang begitu asri dan sarat dengan suasana mistis yang masih begitu kental. Setelah mengisi daftar tamu Kafilah JMQ berta'ziah dan berdoa disisi kanan makam yang tertutup sehingga terkesan begitu angker. Setelah melantunkan doa Kafilah JMQ kemudian berkumpul di sebuah balai pertemuan tepat diseberang makam. Rombongan JMQ kemudian membuat sebuah halaqoh untuk berdiskusi mengenang sosok Saridin, yang begitu melegenda dan selalu didatangi oleh banyak orang untuk berziarah sebagaimana kondisi pada sore ini dimana semakin sore semakin membludak jamaah yang datang.
Dialah Saridin yang merupakan salah satu murid Sunan Kalijaga yang terkenal lugu, namun dengan keluguannya tersebut menghantarkannya memperoleh ilmu hakekat yang merupakan bagian dari ilmu tasawuf. Tidak terasa obrolan terus berlanjut sehingga waktu telah mendekati bedug Magrib.  Sesuai jadwal Kafilah JMQ bermaksud untuk bersilaturahmi ke rumah, mas mirin,  salah seorang staf sarana dan prasarana di yayasan Alhayah Hayatuna Jakarta yang berjarak kurang lebih 20 km.  Meski lumayan jauh tapi karena kondisi jalanan yang lengang rombongan Kafilah JMQ sampai di tempat tujuan kurang dari 30 menit tepat ketika adzan Magrib berkumandang. Kemudian Kafilah JMQ bergegas menuju sebuah masjid yang terletak tidak jauh dari rumah mas mirin. Selesai menunaikan shalat maghrib berjamaah, Kafilah JMQ dan rombongan di sambut suka cita oleh tuan rumah dan langsung dipersilahkan untuk makan malam.  Menu yang cukup menggoda selera, ayam kampung yang gurih dan nikmat dengan nasi putih hangat.  Tanpa terasa waktu telah menjelang Isya, Kafilah JMQ memohon izin untuk menunaikan shalat Isya sekaligus berpamitan untuk melanjutkan kegiatan di asrama PTDQ ALHAYAH Pati.
Sesampainya di asrama, setelah beristirahat beberapa saat,  rencananya acara akan dilanjutkan dengan acara bakar ikan,  namun belum selesai kegiatan tersebut hujan turun dengan begitu deras, sehingga Kafilah JMQ dan santri langsung beristirahat karena esok hari akan diadakan kegiatan kembali.
Menjelang pukul 03.00 WIB Kafilah JMQ mengadakan shalat Qiyamul Lail secara berjamaah sambil menunggu waktu subuh tiba dan dilanjutkan dengan Tausiyah Subuh.  Dalam tausiyah ini Kafilah JMQ lebih mengedepankan acara dialog antar peserta dan para santri sehingga tidak terasa waktu telah menunjukkan pukul 06.00 WIB. Para santri dan Kafilah JMQ diberikan kesempatan untuk sarapan pagi dan melaksanakan agenda pribadi. Sambil menunggu kedatangan pengasuh PTDQ ALHAYAH, Dr. KH Ali Akhmadi, alhafizh yang dijadwalkan akan datang sekitar pukul 11. 30 WIB.
Sesuai rencana, ketika Kafilah JMQ sedang bersiap menunaikan sholat dhuhur, mobil yang membawa beliau memasuki kompleks asrama. Setelah melaksanakan shalat dzuhur Kafilah JMQ bertemu dengan beliau untuk beramah tamah dan dilanjutkan dengan makan siang,  kebetulan sebelumnya beliau mampir di sebuah emang yang menjual ikan bakar air tawar. Santap siang begitu istimewa,  diliputi suasana kekeluargaan dan keakraban. Seusai makan siang,  Dr KH Ali Akhmadi, alhafizh menyampaikan sejarah tentang sosok Saridin yang begitu fenomenal di kalangan masyarakat Pati Selatan, dengan runtut beliau menceritakan perjalanan Syeikh Jangkung mulai dari bayi sehingga meninggalnya.
Beliau bertutur bahwa kisah Saridin dimulai disaat seorang ibu sedang bermunajat untuk meminta dikaruniai seorang anak, dimana kebetulan ketika itu Sunan Kalijaga sedang menggendong seorang bayi yang dititipkan kepada beliau. Spontan beliau memberikan bayi itu  kepada seorang ibu tersebut. Melihat ada seseorang memberikan bayi,  ibu itu menerima nya dengan penuh suka cita dan merawat nya dengan baik sehingga tumbuh dewasa.
Singkat cerita, Saridin tumbuh dan berkembang dalam tradisional masyarakat yang masih sangat tradisional dan sarat dengan hal hal yang mistis. Sehingga suatu ketika masyarakat Desa Miyono gempar. Desa dimana Saridin tinggal bersama keluarga angkat nya.  Seseorang yang bernama Branjung, salah satu warga yang cukup terpandang karena kekayaannya, ditemukan tewas di kebun belakang rumahnya. Segera petugas dari desa mengusut ke tempat kejadian perkara, menyelidiki sebab kematian Branjung dan siapa pembunuhnya.
Di saat warga Desa Miyono sudah berkerumun di rumah Branjung tiba-tiba muncul Saridin. Masyarakat langsung menunjukkan pandangan pada adik ipar Branjung yang terkenal melarat itu. Saridin datang dengan sebilah bambu runcing yang ujungnya berlumuran darah. Segera Saridin dipanggil. ?Kemari kamu, Din,? ujar seorang petugas.
?Ya? saya tuan,? jawab Saridin.
?Kamu tahu siapa yang membunuh Branjung?? ujar petugas itu sambil menunjuk mayat Branjung dengan sikap menyelidik. Saridin menggeleng. Tapi petugas yang sudah curiga itu tak mau menyerah. Mayat Branjung yang mengenakan baju macan ia rapikan lagi hingga tubuh Branjung yang terbaring itu kini menyerupai macan. ?Nah, kalau ini kamu tahu siapa yang membunuh?? tanya petugas itu lagi.
?Lha, kalau macan ini saya membunuh,? jawab Saridin. Tak ayal warga Desa Miyono gempar dengan pernyataan Saridin itu. Berarti Saridin-lah yang membunuh Branjung.
Semalam memang telah terjadi peristiwa pembunuhan di kebun belakang rumah Branjung. Ceritanya diawali ketika Saridin menjagal buah durian yang kepemilikannya ia bagi dua dengan abang iparnya, Branjung. Perjanjiannya adalah setiap durian yang jatuh pada siang hari dimiliki oleh Brajung, sedang yang jatuh pada malam hari dimiliki oleh Saridin. Branjung yang mengajukan perjanjian itu. Rupanya Brajung salah mengira, ia pikir pada siang hari durian jatuh dari pohon. Padahal durian jatuh pada umumnya pada malam hari.
Jelas saja setiap siang Branjung tidak mendapat durian satu pun. Sedangkan pada malam hari ia mengintip ke kebun dan melihat Saridin selalu mendapatkan durian jatuh dalam jumlah cukup banyak. Kenyataan ini membuat Brajung memiliki niat licik. Merasa telah rugi ia berencana menakut-nakuti Saridin dengan menyamar sebagai macan. Dan tanpa pikir panjang segeralah ia bergerak sambil berjalan meniru macan.
Pertama Saridin tidak menyadari keberadaan abang iparnya yang menyamar jadi macan itu, tapi Saridin mulai curiga saat ia tidak menemukan durian dari arah suara jatuh yang ia dengar. Begitu sampai beberapa kali, sampai ia memergoki seekor macan yang membawa durian di tangannya. Tahulah Saridin sekarang, si macan yang kurang ajar itulah yang telah menyusup ke kebunnya. Merasa terancam dengan keberadaan macan itu Saridin langsung membunuhnya dengan bambu di genggamannya.  Maka Dibawalah Saridin menghadap kepala desa untuk disidang secara adat. ?Saridin, benar kamu telah membunuh kakak iparmu?? tanya kepala desa menegaskan. PAK KEPALA DESA, DEMI TUHAN SAYA TIDAK MEMBUNUH KAKAK IPAR SENDIRI,? JAWAB SARIDIN POLOS. SEBAGAIMANA DILAKUKAN PETUGAS KEAMANAN DESANYA, KEPALA DESA LALU MENUTUP LAGI TUBUH BRANJUNG DENGAN PAKAIAN MACANNYA. NAH, KALAU MACAN INI KAMU YANG MEMBUNUH?? TANYA KEPALA DESA. YA, BETUL SAYA YANG MEMBUNUH MACAN INI SEBAB IA MENCURI DURIAN SAYA, JAWAB SARIDIN. BEGITU TERUS SAMPAI BERULANG-ULANG. SARIDIN TETAP TIDAK MENGAKUI TELAH MEMBUNUH BRANJUNG. IA HANYA MEMBUNUH MACAN, SEBAB MEMANG ITULAH YANG TERJADI.
Kepala desa merasa bingung apa yang harus ia putuskan. Di satu sisi ia mengetahui bahwa Branjung telah dibunuh oleh Saridin, tapi Saridin tidak bisa dihukum sebab yang ia bunuh adalah macan, samaran kakak iparnya. Karena merasa tidak bisa mencari solusi masalah yang baru pertama kali terjadi ini, Kepala Desa Miyono membawa kasus ini ke Kadipaten Pati.
Di hadapan Joyo Kusumo, Bupati Pati, kejadian tadi kembali berulang. Kalau pakaian macan Branjung dibuka, Saridin tidak mengakui ia telah membunuh, sedang kalau pakaian Branjung dirapatkan Saridin mengakui ia telah membunuh. Tahulah Bupati, Saridin yang dihadapannya ini adalah orang desa yang lugu dan dungu maka dengan sedikit berbohong ia berkata.
Ya sudah, Din, kalau begitu macan yang salah, karena macan salah, ia harus dikubur, kamu sendiri akan saya beri penghargaan karena telah membunuh macan. Kamu nanti akan saya pindahkan ke bangunan besar, di sana kamu akan diberi makan gratis setiap hari, kamu bebas tidur atau mengerjakan apa saja, tapi kamu tidak boleh keluar, kamu hanya boleh keluar kalau kamu bisa. Nanti kalau kamu mau mandi akan ada orang yang mengantar dan menjaga kamu, ujar Joyo Kusumo kepada Saridin.
Sebagai orang yang melarat tentu saja Saridin senang mau diberi makan gratis. Apalagi kalau mandi akan diantar, Wah, mirip Priyayi, ujar Saridin gembira. Maka dibawalah Saridin ke tempat enak yang tidak lain adalah penjara itu. Di sana ia mendekam sebagai tahanan. Disitulah Saridin mulai menyadari apa yang menimpanya. Karena Bupati membolehkan dirinya keluar dari penjara kalau ia bisa. Saridin ingin keluar untuk minta maaf pada istrinya sebab telah menjadi suami yang berulah. Di sana pula Saridin menghayati wejangan Sunan Bonang, yang mengatakan, jika seorang manusia telah menyatukan rasa dengan Sang Pencipta, apa yang diingnkan pasti akan terlaksana.
Begitulah Saridin dapat pulang dan minta maaf kepada istrinya. Beberapa kali itu ia lakukan. Tapi dasar lugu dan jujur, setelah menengok sang istri, Saridin pulang kembali ke penjara. Sampai akhirnya kelakuannya ini diketahui petugas dan membuat berang Bupati, Saridin dijatuhi hukuman mati tapi berhasil meloloskan diri karena Bupati memperbolehkan dirinya kabur bila berhasil lolos dari kepungan prajurit.
Demikianlah satu babak dalam cerita Saridin yang mana Keberadaan Saridin juga tidak bisa lepas dari Sunan Kudus. Saat melarikan diri ke kabupaten Pati, Saridin bertemu dengan Sunan Kalijaga yang menyuruhnya belajar di pesantren Sunan Kudus di Kudus. Maka berangkatlah Saridin untuk menuntut ilmu.
Sekalipun ia murid baru, Saridin sudah menguasai dasar-dasar agama. Seperti syahadat dan rukun iman yang didapatnya dari Sunan Kalijaga. Kepada Sunan Kudus Saridin menggali lagi makna kalimat suci itu. Saat mengaji itulah beberapa peristiwa unik terjadi.
Karena murid baru dikerjai oleh murid-murid lama. Para santri setiap hari diwajibkan mengisi tempat air untuk wudu. Nah, Saridin yang juga terkena kewajiban itu rupanya tidak kebagian ember. Para santri lama tak ada satupun yang mau meminjamkan ember padanya.
Melihat Saridin bingung kesulitan mendapatkan ember, seorang santri bilang dengan maksud mengolok. Din, kamu tidak kebagian ember ya, tuh ada keranjang. Bawa saja air di sumur itu pakai keranjang, ujar santri itu sambil menahan senyum. Terdorong melaksanakan kewajibannya Saridin membawa saja keranjang itu. Ajaib, air yang seharusnya lolos di sela-sela lubang keranjang itu, malah dapat tertampung hingga Saridin dapat mengisi tempat wudu sampai penuh. Para santri yang melihat hanya melongo melihat ulah Saridin.
Berita itu akhirnya sampai kepada Sunan Kudus. Di hadapan mursyidnya itu Saridin dengan jujur menceritakan semuanya tanpa ada satupun yang tertinggal. Menganggap Saridin sedang menyombongkan diri dengan kelebihannya, Sunan Kudus lalu mengetes Saridin. Din, kamu kan tadi mengisi air, sekarang di tempat wudu itu apakah ada ikannya? tanya Sunan Kudus. inggih Kanjeng Sunan, begitu pula di tempat air wudu itu, jawab Saridin polos. Para santri yang mendengar jawaban Saridin kontan tertawa. Mana mungkin tempat wudu ada ikannya, pikir mereka. Tapi setelah di cek memang betul ditemukan ikan di dalamnya.
Sunan Kudus gusar melihatnya, kali ini Sunan Kudus merasa ditantang. Baik, Saridin, sekarang apa yang ada ditanganku ini? ujar Sunan Kudus. Buah kelapa, kanjeng, jawab Saridin pelan.
Katamu setiap air ada ikannya, kelapa ini didalamnya ada airnya, apakah kau tetap mengatakan bahwa dalam kelapa ini ada ikannya? tanya Sunan Kudus lagi. inggih ada Kanjeng sunan, jawab Saridin polos. Kembali hadirin tertawa karena menganggap Saridin dungu. Tapi setelah kelapa itu dibelah kagetlah mereka semua, termasuk Sunan Kudus, karena didalamnya ada ikan hidup yang berenang di air kelapa. Menganggap Saridin melakukan hal-hal yang tak patut, yaitu memperlihatkan karomah diri pada orang lain. Sunan Kudus marah, dan Saridin pun di usir dan tidak boleh menginjak tanah Kudus lagi.
Saridin merasa sedih,  padahal dia masih ingin tinggal  di Kudus,  Maka Saridin bersembunyi didalam sebuah jumbleng (tempat membuang air besar) sehingga dia beranggapan tidak berpijak diatas tanah melainkan diatas tinja.  Sehingga suatu pagi ketika salah seorang santri buang air besar merasa ada sesuatu yang aneh di dalam jumbleng tersebut, setelah di cek ternyata ada Saridin didalam nya. Maka gegerlah seisi pesantren, mereka beramai ramai mengusir Saridin.
Dengan putus asa Saridin pergi, rupanya hal yang dialaminya diketahui Sunan Kalijaga. Wali yang bijak ini lalu menasehati Saridin untuk sabar sekalipun perbuatannya tadi dilakukan tanpa maksud menyombongkan diri. Sikap Sunan Kudus juga dijelaskan oleh Sunan Kalijaga sebagai sikap yang wajar seorang manusia biasa yang merasa malu jika dipermalukan di depan orang lain di hadapan murid-muridnya. Setelah peristiwa itu Sunan Kalijaga Menyuruh Saridin mengasingkan diri untuk lebih dalam mengenal Allah SWT serta menjalani latihan-latihan rohani untuk menyatu dengannya dengan cara menaiki dua buah kelapa yang diikat di kedua kakinya di laut. Konon Saridin ketika itu bisa mengembara ke negeri Champa,  India bahkan ada yang mengatakan sampai Timur Tengah.
Setelah lulus Saridin kembali ke masyarakat, ia kemudian dikenal sebagai sufi yang namanya cukup disegani di masa Kerajaan Mataram. Ia mengajarkan konsep-konsep tasawuf pada orang-orang yang ingin mengaji padanya. Ia menetap kembali di daerah Kajen, tanah kelahirannya, sampai wafat. Makamnya masih sering diziarahi orang sampai sekarang.
Dr. KH Ali Akhmadi juga menuturkan bahwa karomah Saridin yang sampai saat ini masih diingat oleh masyarakat pati adalah keberadaan kerbau Landoh yang konon tidak mempan disembelih dengan alat potong biasa kecuali dengan menggunakan tombak kecil yang dipergunakan Saridin untuk membunuh Branjung. Unsur mistis kemudian berkembang setelah itu adalah siapa pun yang menyimpan kulit kerbau Landoh itu akan memiliki kesaksian linuwih.  Begitulah beliau begitu runtut berkisah tentang Saridin, karena beliau memang lahir dan dibesarkan di lingkungan ini. Cerita ini pun berakhir setelah waktu ashar menjelang.
Setelah menunaikan shalat ashar berjamaah, acara JMQ dilanjutkan dengan tasmi oleh Dr KH Ali Akhmadi dari juz 26 - 30 sementara itu rombongan Kafilah JMQ dan para santri menyimak nya.  Disela sela tasmi nya beliau menyampaikan berbagai macam hal yang berkenaan dengan makna ayat yang dibaca.  Sehingga bedug magrib tiba.  Seusai sholat magrib beliau meneruskan tausiyah nya dan di akhiri dengan doa khatmul Qur'an.  Doa yang mengaduk aduk perasaan, sehingga air mata tidak terasa membasahi pipi. Larut dalam doa yang begitu menggugah hati dan sanubari. Seusai doa dilanjutkan dengan acara Santap malam bersama Kafilah JMQ dan masyarakat setempat yang sedari tadi telah mengikuti kegiatan JMQ sehingga bedug Isya tiba. Untuk selanjutnya acara dilanjutkan pada keesokan harinya.
Tepat pukul 03.00 WIB, rangkaian kegiatan diawali dengan Qiyamul Lail dengan Iman KH Ali Akhmadi, alhafizh. Suasana begitu khusyu, air mata meleleh membasahi pipi,  tidak terhitung berapa kali beliau terisak isak mengingat betapa dahsyat nya kandungan ayat yang dibaca. Apalagi ketika doa witir. Para jamaah begitu larut dalam rangkaian doa yang mengalir indah, tertata dan mengaduk aduk rasa sehingga bedug Subuh pun telah tiba. Setelah melaksanakan shalat subuh berjamaah dilanjutkan dengan tausiyah subuh yang mengambil tema tentang keutamaan al Qur'an dan menjaga kerukunan antar keluarga dan sesama muslim sehingga waktu suruk, yang menandai berakhir rangkaian kegiatan JMQ di penghujung tahun sekaligus kegiatan pembuka perjalanan JMQ.
Sebelum menutup catatan JMQ kali ini,  Kafilah JMQ mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah turut serta mensukseskan acara ini,  diantaranya :
1. Keluarga besar mbah maskad, selaku tuan rumah dan yang telah memberikan fasilitas tempat dan akomodasi kepada Kafilah JMQ
2.  Dr.  KH Ali Akhmadi, alhafizh beserta keluarga besarnya yang telah menjadi sponsor utama dan telah turut serta dalam kegiatan JMQ kali ini.
3. Hj.  Elviza Anwar yang telah menjadi salah satu sponsor kegiatan JMQ.
4. H.  Joko Setiono, ustadz Syahroni dan ustadz Mansyur yang telah menyempatkan waktunya untuk turut serta dalam kegiatan JMQ
5. Ustadz Badrudin yang telah mengatur kegiatan dan mempersiapkan berbagai macam hal nya sehingga kegiatan JMQ kali ini bisa berjalan dengan lancar dan sukses.
6. Para santri PTDQ ALHAYAH Pati yang telah turut serta dalam kegiatan ini.
Semoga semua jerih payah nya dibalas oleh Allah dengan pahala yang setimpal dan dicatat oleh malaikat sebagai catatan kebaikan yang bernilai pahala di sisi Allah. Sampai bertemu di catatan perjalanan JMQ di lain waktu dan kesempatan.
Bumi Syeikh Jangkung, 01/01/2017


Tim Media JMQ