MENGEJAR CINTA MANUSIA SENGSARA

Sudah menjadi kebiasaan manusia sebagai seorang makhluk yang lemah selalu berkeluh kesah, ingin dimengerti permasalahan yang sedang dihadapi, ingin didengar kegalauan hati nya, dan yang pasti ingin diperhatikan semua kebutuhan nya. Padahal sering kali sebagai manusia kita lupa bahwa ada orang lain sekitar kita yang memiliki permasalahan yang jauh lebih rumit, mengalami kegalauan jiwa yang begitu perih, menyimpan luka hati yang teramat pedih, dan menanggung beban hidup yang teramat berat. Tapi, seringkali mereka tampak lebih tenang dalam mengarungi kehidupan ini, lebih santai,  senantiasa menebar senyum, bahkan masih sempat untuk meringankan beban orang lain.  Kita sering kali merasa menjadi orang yang paling menderita, menjadi orang yang paling berat tanggung jawabnya, mereka menjadi orang yang paling diutamakan untuk didengarkan permasalahan hidupnya. Padahal kadang kala kita terlalu membesar besarkan sebuah permasalahan yang sebenarnya hanya sepele,  memandang sebuah tanggung jawab yang ringan dengan kacamata akal yang sempit, mengedepankan kegalauan dengan membawa nya ke dalam perasaan atau istilah anak muda sekarang disebut "baper" bawa perasaan,  sehingga sesuatu yang harusnya biasa saja menjadi lebih sulit,  lebih rumit, dan lebih berat. 

Tapi inilah kondisi kita yang sebenarnya. Jarang sekali merasa cukup dengan suatu hal yang telah dicapai. Selalu merasa menginginkan sesuatu yang dianggapnya lebih baik dan lebih sempurna. Diakui atau tidak, hal ini melanda hampir semua level manusia bahkan boleh jadi seorang yang dianggap alim sekalipun tidak bisa luput dari perasaan ini kecuali mereka yang benar-benar menjadikan kedudukannya dan posisinya sebagai sebuah titipan yangmana suatu saat akan diambil oleh yang menitipkannya. Tidak pernah merasa terhina ketika harus beralih posisi, tidak merasa kecil disaat melepas kedudukannya, tidak merasa malu jika harus kembali menjadi masyarakat biasa. 

Inilah makhluk yang bernama manusia,  seringkali merasa paling berjasa, merasa paling pantas, merasa paling bertanggung jawab dan yang lebih berbahaya adalah merasa paling benar, sehingga ketika kedudukan atau posisinya diambil semua orang disalahkan, semua orang dimusuhi, semua orang digugat, merasa di didholimi,  merasa tidak dihargai karena sudah berbuat banyak untuk orang lain. Mata dan hatinya telah dibutakan oleh cinta nya kepada dunia. Mengejar cinta manusia yang akan melelahkan jiwa dan menutup pintu kebahagiaan yang sebenarnya. Cinta menjadi sebuah fatamorgana,  semakin dikejar akan semakin menjauh,  cinta laksana meminum air laut, semakin kehausan yang dirasakan. 
Inilah cinta,  keberadaannya menjadikan manusia tertawa bahagia, tapi tidak jarang menjadikan nya menangis sepanjang masa. 

RPTRA Cililitan 
08/01/2017

0 Comments