⁠⁠⁠Takkan lari gunung dikejar

Tags

Manusia seringkali lupa bahwa bekal perjalanannya dalam mengarungi kehidupan ini telah dipersiapkan jauh hari sebelum dilahirkan di alam dunia. Disaat itu, telah dituliskan tentang tentang rezeki dan kematiannya. Tentu saja semua telah ada takaran nya masing-masing, maka rezeki seseorang tentu tidak akan pernah tertukar dengan rezeki orang lain. Ini berarti bukan bermaksud mengarahkan kita untuk tidak bekerja, Karena hakekat nya bekerja itu adalah ibadah, sementara rizki adalah hak prerogatif Allah. Tidak seorang pun yang bisa memastikan kecukupan rizki bagi dirinya kecuali dirinya sendiri, karena kepasrahannya kepada Allah.
Dunia ini oleh sebagian besar orang dianggap begitu indah sehingga mereka terlena dengan bekerja sepenuh jiwa raga untuk mendapatkannya. Padahal dunia inilah adalah "fana"  tidak jelas keberadaannya dan akan lenyap seiring dengan perjalanan masa. Dunia ini adalah "sesuatu yang dekat" jika dimaknai dengan kata asalnya "dana -  yadnu -  dunuwun - dunya" sehingga mengapa kita harus direpotkan karena keberadaannya. Hari ini kita hidup di dunia, tapi kita terlalu sibuk untuk memikirkannya. Ada sebuah ungkapan yang begitu indah disampaikan oleh ibnu atthaillah al iskandary, "kesungguhanmu untuk memperoleh sesuatu yang telah dijamin untukmu adalah kelalaian mu terhadap kewajiban yang telah ditugaskan kepadamu membuktikan butanya matahatimu". Kita lupa bahwa kehidupan ini ada yang mengatur nya dengan rapi bahkan seringkali akal fikiran kita tidak dapat menjangkaunya,  "Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh)."  (QS, 11:6).
Apalagi yang perlu kita khawatirkan dari kehidupan dunia ini yang begitu cepat berlalu. Mengapa kita harus cemburu dengan sebuah keberhasilan yang dicapai oleh seseorang dalam urusan dunianya, sementara Allah telah menetapkan alur cerita masing-masing manusia. Bisa jadi keberhasilan seseorang tersebut justru awal dari kehancurannya. Tidak selamanya perjalanan hidup ini selalu berada diatas demikian juga sebaliknya. Roda kehidupan ini selalu berputar, awalnya bahagia berganti derita, kadang terhina berujung dipuja. Inilah kehidupan tergantung bagaimana kita pandai untuk menyikapi nya. Disaat kesulitan menghampiri kita bersabar karenanya, disaat kemudahan menghinggapi kita bersyukur karenanya.
Seringkali kita beranggapan bahwa rezeki diidentikkan dengan berlimpahnya harta, tingginya status sosial, banyak gelar yang disandang. Padahal rezeki termahal adalah iman dan Islam yang masih melekat di dalam dada. Tanpa hadirnya kedua hal tersebut, berlimpahnya harta, tingginya jabatan dan banyaknya gelar adalah tidak ada artinya, karena semua hal tersebut akan lenyap bersama matinya yang empunya.
Jika saja semua orang memahami dimana posisi nya maka perjalanan hidup ini akan berjalan begitu indah. Jiwanya tenang, hatinya lapang, pikirannya terang dan jasmaninya senang. Untuk apa mengejar sesuatu yang telah dijamin keberadaannya, sehingga melupakan tugas utama kita sebagai manusia yakni beribadah kepada Nya. Kuncinya adalah keyakinan dan keimanan yang tulus,  menerima segala bentuk kenyataan hidup dengan lapang dada.  Bekerja adalah media dan doa adalah sarana, sementara rezeki kita datang nya adalah dari Allah Ta'ala semata. Wallahu a'lam.
Wisma alhayah, 09/01/2017
Alfakir billah