IZINKAN AKU BAHAGIA


Bahagia adalah sesuatu keadaan yang didambakan oleh setiap orang. Menjadi bahagia adalah sebuah harapan yang selalu diusahakan untuk segera diwujudkan. Bekerja keras berangkat pagi pulang petang, bersimbah peluh bermandi keringat, bahkan menghalalkan berbagai macam cara, dan tidak jarang nyawa pun sering kali menjadi taruhan nya demi untuk menggapai sebuah keadaan yang disebutkan oleh banyak orang sebagai "bahagia" atau kebahagiaan.

Lantas apakah sebenarnya bahagia itu?

Definisi bahagia adalah keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan). Dalam bahasa Arab bahagia disebutkan sebagai "as sa'adah" yang kemudian memiliki berbagai macam bentukan kata tapi memiliki makna yang sama. Salah satunya adalah "sa'iidun" seperti yang disebutkan dalam alQur'an surat Huud ayat 105.

Bahagia itu merupakan sikap yang unik dan memiliki ciri khas yang membedakannya dengan sikap yang lain. Bahagia itu digambarkan dengan senyum riang, mata berbinar, bibir merekah dan wajah yang berseri seri penuh ekspresi. Maka, siapapun bisa berbahagia. Buktinya, kita sering menyaksikan tawa riang di dalam gubug bambu reyot nan usang dan kehangatan tegur sapa penuh empati dari para dhuafa yang menurut kita mereka menderita. Sebaliknya kita sering mendapati tangis duka lara dari dalam rumah megah bak istana, hujatan dan makian dari sepasang suami istri yang menurut kita begitu harmonis nan serasi. Wajah wajah lelah dari para pejabat tinggi yang tidak sempat lagi menyapa anak istri dengan penuh simpati.

Realitanya, bahagia itu sederhana. Bahagia itu tidak diukur dengan harta yang melimpah, rumah yang megah, kendaraan yang mewah, kedudukan yang wah, pasangan hidup yang cantik atau gagah, dan segala macam kenikmatan dunia lainnya yang menurut kita menjadi sumber kebahagiaan. Akan tetapi bahagia itu bersumber dari lapang nya hati. Hati yang lapang memiliki banyak ruang untuk menampung segala kondisi dan masalah, sehingga seberat apapun masalah tidak lantas tersirat pada wajah dan tersurat di ujung lidah. Sebaliknya hati yang sempit akan selalu memuntahkan sekecil apapun masalah. Wajah tidak lagi bergairah, badan terlihat begitu lemah dan nafas pun terlihat begitu berat terengah - engah.

Lapangnya hati itu diukur dari sebesar apa rasa bersyukur. Semakin jauh seseorang dari rasa bersyukur maka akan semakin mendekatkan diri kepada rasa kufur. Ketika seseorang telah dihinggapi rasa kufur, niscaya seseorang tersebut akan lupa bagaimana cara berbahagia. Karena, yang ada hanyalah rasa kurang cukup dengan sesuatu yang telah diraihnya. Lantas kapan dia akan bahagia, bilamana tubuh sudah mulai renta dan nafsu sudah mulai koma?

Akhirnya, apapun dan bagaimanapun kondisi kita saat ini bilamana kita hiasi dengan rasa syukur maka bahagia akan senantiasa menyertai. Hidup ini indah, apapun yang terjadi inilah kenyataan kita hari ini. Hidup ini hanya perlu disyukuri bukan untuk disesali. Allahu akbar walillahilhamdu. Wallahu a'lam bishawab.

Alfakir Billah, 20/02/2017

0 Comments