KETIKA ASA MENJADI FAKTA

Tags

Masa kecil adalah masa yang indah. Suatu masa dimana seseorang memiliki banyak impian atau cita cita yang begitu tinggi. Setiap kali ditanyakan apakah cita cita nya atau ingin menjadi apa ketika dewasa nanti, kebanyakan anak anak menjawab dengan penuh semangat dan senang hati, "Aku ingin menjadi presiden," atau, "Aku ingin menjadi tentara", atau "Aku ingin menjadi dokter ", atau" Aku ingin menjadi pilot", dan masih banyak profesi lain yang dianggap membahagiakan dan membanggakan nya.  Namun uniknya, biasanya cita-cita tersebut bergeser seiring dengan permasalahan kehidupan yang dialami pada kehidupan selanjutnya. Meski, tidak jarang juga seorang anak mendapatkan apa yang diimpikan semenjak masa kecilnya. Sehingga bukan hanya dirinya yang berbahagia akan tetapi keduanya orang tuanya, orang-orang sekelilingnya dan bahkan masyarakat nya turut berbangga.

Mendapatkan sesuatu yang menjadi impian, cita-cita dan harapan adalah sebuah anugerah dan kebahagiaan. Mendapat pekerjaan yang disenangi, memperoleh pasangan idaman hati, menduduki jabatan penting yang cukup tinggi, mempunyai kekayaan yang memadahi sehingga bisa berangkat Umrah dan haji sampai berkali-kali. Maka, inilah yang kemudian disebutkan oleh banyak orang sebagai sebuah kesuksesan. Namun sayang tidak jarang kita tidak tahu untuk apa kesuksesan tersebut dan bagaimana cara mensyukurinya. Kita lupa bahwa apa yang diperoleh saat ini adalah bukan semata-mata hasil kerja keras diri sendiri, melainkan ada campur tangan pihak lain yang turut andil dalam kesuksesan tersebut dan yang paling penting ada Allah yang telah memberikan kenikmatan yang tiada henti. (QS. 14:34).

Selanjutnya, ketika asa itu menjadi fakta, atau dalam istilah keren nya disebut, "when the dream comes true" maka akan kita jumpai berbagai macam cara untuk mengekspresikan nya. Bahkan ada kalanya menjadi sesuatu yang menarik nan lucu. Ada yang menggunduli rambutnya ketika sukses menjadi juara salah satu cabang olahraga, ada yang melakukan gerakan "salto" berguling guling di tanah sambil berteriak histeris, "mak.... aku lulus" ketika berhasil mengikuti wisuda setelah sekian lama nya tidak kunjung menyelesaikan skripsi nya, ada juga yang tersenyum senyum kepada setiap orang yang ditemui ketika berhasil menemukan pujaan hatinya sehingga sampaikan teman - temannya heran dan berkata, "bro obat nya sudah habis ya", dan mungkin juga kita memiliki pengalaman tersendiri dalam mengungkapkan atau memaknai sebuah kesuksesan. Biasanya, ketika sebuah kesuksesan itu dicapai dengan bersusah payah dan melalui perjuangan yang begitu panjang memiliki cara tersendiri dalam mengekspresikan nya yang berbeda ketika memperoleh kesuksesan yang didapatkan dengan cara yang mudah dan sederhana.

Namun bagaimanapun cara mengungkapkan kesuksesan, sebagai seorang yang beriman sudah menjadi sebuah keharusan bagi kita untuk mengekspresikan sebuah kesuksesan diawali dengan mengucap "syukur" "bersujud "berterima kasih kepada Allah atas karunia-Nya sebagai wujud implikasi keimanan. Selanjutnya berterima kasih kepada semua pihak yang telah turut menghantarkan kita kepada cita-cita sebagai wujud kasih sayang kepada sesama. Sehingga dengan begitu kesuksesan tersebut akan menjadi bertambah berkah. (QS. 14:7). Kemudian, yang tidak kalah penting adalah menjadikan kesuksesan sebagai sarana untuk memberikan kebaikan dan kebahagiaan sehingga kesuksesan tersebut bermanfaat bagi orang lain. Dan yang terakhir, tidak terlalu bergembira bila kesuksesan itu bisa dicapai serta terus bersabar bila kesuksesan itu belum juga didapatkan.

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (HR.Muslim)

Wallahu a'lam

Alfakir Billah, 14/02/2017