PUCUK RINDU

Dalam kehidupan sehari hari, kadangkala kita sulit membedakan antara rindu dan kangen. Tapi apabila kita perhatikan dengan seksama ternyata arti kedua kata tersebut sedikit berbeda. Rindu dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online memiliki dua arti : rasa sangat ingin berharap benar terhadap sesuatu dan memiliki keinginan yang kuat untuk bertemu sementara kangen berarti ingin sekali bertemu. Rindu lebih kepada sesuatu yang lahir dari hati yang paling dalam akan tetapi kangen lebih kepada ungkapan yang bersifat spontanitas.

Ini menandakan bahwa keberadaan rindu menjadi bukti adanya ikatan batin yang begitu kuat antara satu dengan yang lain yang terpisah jarak dan waktu bahkan berbeda alam. Seorang anak pada momen tertentu terlihat bermuram durja karena memendam rindu kepada ibunya yang telah pergi menghadap sang Pencipta. Seorang ibu nampak murung menunggu kedatangan putra tercinta yang tengah menyelesaikan studi di luar negeri. Seorang istri terlihat gelisah karena sang suami pergi tidak kunjung kembali. Sementara itu,  kangen lebih bersifat keinginan untuk mengenang sesuatu peristiwa atau kejadian yang telah berlalu, misalnya, seorang kawan terlihat gundah karena terkenang momen-momen kebersamaan dengan teman teman sebaya ketika masih duduk dibangku sekolah, maka kemudian disebut temu kangen antar alumni sekian sekian.

Rindu sebuah ungkapan bahasa hati yang akan menjadi indah dan mendatangkan pahala ketika sesuai dengan jalurnya. Misalnya, rindu seseorang kepada pasangan halalnya, rindu seorang ibu kepada anaknya, rindu seorang teman kepada sesama teman sejenisnya, rindu seseorang kepada negaranya, rindunya seorang murid kepada gurunya. Biasanya rindu semacam ini diiringi dengan doa untuk kebaikan untuk seseorang atau sesuatu yang dirindukan dan melakukan tindakan yang baik sehingga rasa rindu itu terpenuhi. Sebaliknya rindu juga akan berbuah menjadi petaka bila salah dalam penempatannya. Misalnya, seseorang yang merindukan lawan jenis sementara tidak ada ikatan pernikahan di dalam nya. Biasanya hal ini hawa nafsu yang lebih mendominasi. Sehingga segala macam cara dilakukan untuk memenuhi rasa rindu nya.

Demikianlah, rindu seorang hamba kepada sesamanya yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan setiap insan di muka bumi ini. Rindu adalah bukti cinta dan kasih sayang. Dengannya seseorang tumbuh semangat untuk bekerja. Rindu menjadikan seseorang mengorbankan segala potensi yang dimiliki agar bertemu dengan yang dirindukan nya. Walaupun harus berlayar mengarungi Samudra atau harus berjalan kaki ribuan mil jauhnya. Karena obat adalah bertemu.

Namun, sebagai seorang muslim terbesitkah di hati kita merindukan perjumpaan dengan Allah, merindukan perjumpaan dengan Rasulullah Saw dan merindukan surga yang luasnya seluas langit dan bumi?

Sebuah pertanyaan yang mungkin hanya diri kita yang bisa menjawab nya. Rasa rindu yang teramat sangat untuk bertemu baginda Rasulullah saw karena keagungan dan keindahan budi pekerti beliau. Mungkin inilah kerinduan yang membuncah dalam setiap dada para sahabat yang pernah bertemu dengan beliau, mereka begitu merindukan momen momen yang indah semasa beliau SAW masih hidup yang merupakan sosok mulia yang tidak pernah bisa tergantikan. Sehingga seringkali mereka menangis setiapkali menyebut nama baginda Rasulullah Saw.

Demikianlah para sahabat adalah generasi terbaik yang memiliki kerinduan istimewa karena mereka adalah generasi yang begitu merindukan surga. Sehingga setiap kali mendengar panggilan jihad berperang di jalan Allah mereka segera bergegas untuk mempersiapkan diri untuk menunaikan nya. bahkan pernah dikisahkan bahwa ada seorang sahabat yang bernama Handzalah tidak sempat melaksanakan mandi junub demi memenuhi panggilan jihad dan akhirnya beliau menemui syahid nya, konon kata Rasulullah saw para malaikat lah yang memandikannya. Sungguh luar biasa, kerinduan yang begitu tulus dan ikhlas mengalir dalam setiap alunan nafas dan aliran darah.

Saat ini adalah momen yang tepat bagi para perindu surga untuk mengambil bagian nya. Sudah sangat jelas musuh dan lawannya. Saat ini, Islam tengah  dihina, alQur'an tengah dinista dan para ulama sedang dikriminalisasi.  Inilah kesempatan istimewa, namun bilamana kita tidak turut ambil bagian dalamnya atau justru kita mendukung para penista agama, maka jangan pernah berharap akan mencium harumnya surga. Karena kerinduannya hanyalah rindu kepada dunia, bilamana rasa rindunya telah terpenuhi, maka tidak pernah mendapatkan akhiratnya, padahal disana kita akan kekal dan abadi.

Akhirnya, Bersyukurlah bila hari ini masih menyimpan rindu yang hakiki, kerinduan seorang hamba kepada pencipta nya. Kerana di dalam kerinduan tersebut ada asa, usaha, doa dan pahala. Tetaplah tersenyum, meski sampai saat ini rindumu belum terpenuhi.  Yakinlah bahwa Allah dan Rasulullah Saw begitu merindukan mu.
Wallahu a'lam

17/02/2017,  Alfakir Billah

0 Comments